Si Sabar
Di
wall facebook masih menyimpan rahasia kecil masa SMA yang tidak luntur selama
tujuh tahun, mouse mungil kugerakkan perlahan untuk menikmati nostalgia masa itu, senyum bahagia masih bisa kurasakan
di pipi kanan dan kiri hingga membuat kebas wajahku menahan senyuman yang tidak
hilang saat memandangi foto-foto lugu dan terkesan polos ruman wajah masing
masing temanku sekelas. Aku mencoba mengamati kembali sebuah foto yang
tergambar jelas wajah wajah sahabatku saat itu, dengan wajah yang serius kulihat
satu persatu wajah wajah itu, ada gambar wajahku. Aku perbesar gambar itu
dengan zoom aplikasi PICASA di laptop. kuamati dengan mendalam foto itu,
posisiku berantakan, entah terlalu cepat dijpret kamera, entah itu aku adanya
yang galau sehingga aku belum siap difoto. seolah menceritakan aku sebagai anak
yang minder, dan tidak bisa mengambil posisi yang kompak untuk jepretan foto.
Kucoba
ingat kembali kejadiaan di foto, ternyata diambil pada acara ulang tahun Sri
Mulyani, teman kelasku yang berulang tahun saat itu. Acaranya berlangsung di rumah , peristiwa di
foto sontak membuatku seolah mendapat jawaban atas masa masaku saat ini, aku
coba menfokuskan pikiran kedalam masa lalu sambil memegang kening dengan tangan
kanan. “ayo pikir pikir pikir teriakku dalam hati” belum juga aku menemukan
kenapa aku jelek sekali pada posisi foto itu. Kugerakkan mouse lagi dengan
tergesa gesa dan berharap aku menemukan informasi tambahan kenapa aku
bertingkah aneh saat itu.
Aku
beristrahat dan menarik nafas dalam dalam, tiba tiba muncul pikiran bengis dan
jantung berdebar “ andai aku mengambil
peran strategis pada pergerakan muza
2014 saat itu maka tak ada yang perlu kusesali. Aku menarik nafas kembali,
kuhembuskan pelan-pelan supaya aku dapat merasakan udara keluar dari dua lubang
hidung, sesekali terasa mampet di hidung sebelah kiri, sesekali mampet
disebelah kanan. Rasa ingin tahuku belum juga hilang, sambil mengetuk-ngetuk pegangan kursi dengan
jari telunjuk ,pikiranku mencoba membayangkan kejadian 7 tahun silam. Apa yang
sebenarnya terjadi padaku saat itu.
MUZA
adalah Tim pemenangan ketua Himpunan Mahasiswa di STAIN Malikussaleh
Lhokseumawe, sebuah tim yang berhimpunnya mahasiswa dari kelompok kupiah
meuketop dan kelompok kupiah maleem. Muza diambil dari penggalan nama Muhammad
Fuadi dan Zahlul Fuad (MUZA). Kesatuan erat hingga dinasti kepemimpinan
berjalan langgam sukses menyuarakan dan mengkaderkan mahasiswa menjadi pemikir
lihai perpolitikan dan intelektual.
Kubongkar
semua foto di kronologi facebook, ku naik-turunkan layar laptop supaya
loadingnya lebih cepat, jemariku seolah bekerja tanpa intruksi, mungkin rasa
geramku yang membuatnya menekan mouse kuat kuat. “Akhirnya ucapku” aku dapati foto foto yang sepertinya sedikit
menjelaskan raut wajahku saat itu, baju juga cukup memberikan informasi
tambahan, di sisi depan baju bertuliskan the-Fly (lalat). Walau harga murahan,
tapi dia memberikanku kekuatan untuk tetap pada pendirian.tulisan pada bagian
depan baju mewakili perasaan dan pola pikirku. Kekuatan kata-katanya seperti
sihir yang memberikan kekuatan bertahan hidup seolah di dunia kegelapan.
Fly!
Kata seruan untuk menghendaki keleluasaan, bagiku bebas itu bisa kemana saja,
kapan saja, berteman dengan siapapun, dan dimanapun, aku kembali menarik nafas
sambil berujar “Fly”. Tidak terasa
aku sudah empat jam duduk diskursi kerjaku yang sederhana, terlihat awan merah
menjelma menjadi payung di atas atap rumah, pohon pisang yang terlihat
menyegarkan jiwa telah diselimuti gelap, tidak seberkas cahayapun tembus
kedalam pepohonan hijau itu.
Dibelakang
rumah, terdapat sebuah kandang ayam yang cukup memasukkan 50 ekor ayam, aku
bangun dari kursi kerja menuju kesana, sambil memegang pinggang menggerutuk
membunyikan tek tek di tiap persendian yang sudah kaku. Empat jam cukuplah
membuat badan nyeri seluruhnya. Ayam ayam berlarian kearahku, semakin lama
semakin banyak, aku terperangkap, kakiku tidak bisa diangkat sembarangan, jika
kulangkahkan kaki pasti ada yang mati, atau aku yang rugi. Anak ayam mencoba
naik satu persatu keatas kakiku. Ayam ayam terus berlarian kearahku sambil
mengumpatiku, “ka ka tet, ka ka tet” (dengan aksen aceh untuk bunyi ayam betina).
Seolah
mengerti apa yang dikeluhkan, aku mencoba meraih pakan ayam, “dedak” didalam plastik yang dikaitkan
pada dinding kandang sebelah kiri menghadap kearah jalan. Dua orang melintasi
jalan rumahku, semakin dekat, dua anak muda menjinjing karung berisi rumput.
Assalamualaikum
!
Waalaikumsalam
jawabku sambil mengangkat tangan kanan memberi penghargaan padanya telah
menyapa. Kuperhatikan bentuk badannya dari belakang, pikiranku kembali teringat
teman SMA dulu, badannya Kekar, giginya ibarat kukur bisa kupas kelapa, pernah
kulihat bagaimana dia mengupas kelapa dengan mulutnya itu, kulitnya sawo
matang. kerjanya belajar dan hobinya jadi anak gembala. Katanya bangga anak
gembala calon pemimpin masa depan
“Bukankah seluruh nabi dan rasul yang
25 tidak menjadi pemimpin sebelum dia gembala kambing pada masanya.?”
Aku
tertawa kagum padanya yang membenarkan segala perbuatannya berdasarkan dalil
dalil kehidupan. Namanya Sabaruddin, Ketua Osis SMA 1 Lhokseumawe, panutan
anak-anak lain, kerasnya hidup tidak mengendurkan semangat juangnya dalam menoreh
tinta keberhasilannya sebagai anak Pramuka. Sikapnya low profil sehingga dia
tak jemu jemu dalam segala hal.
Pelajaran
pertama yang Kuambil # jadilah pengembala
kambing untuk melatih diri sebagai pemimpin.
Aku
pun menggeleng-geleng kepala sambil menumpukkan dedak pada wajan,
ayam-ayam tak hentinya memanjatiku, dari
kaki loncat ke tangan, kadang ke bahu, seolah induknya, aku dijadikan tempat
mengadu segala pengalamannya mencari cacing hari ini. Satu persatu kumasukkan
dalam kotak kardus untuk melindunginya dari dinginnya malam dan musang musang
pemburu hewan kandang. Selesai sudah rutinitasku hari ini.
***