Minggu, 08 Mei 2016

Mozaik VIII

Demagogie itu dia !

Dosen ternyata tidak masuk, seperti mahasiswa, dosen juga pasti sedang tersesat mencari ruang yang dijadwalkan untuknya oleh akademik, atau dosen sedang mendaki jalanan kerikil dari pinggir jalan besar atau sibuk dengan tanda tangan KRS Mahasiswa sebagai Dosen Wali. Mungkin juga untuk mempersilahkan para siswa berkenalan di minggu pertama.

Ruangan pengap, sinar  matahari menyeka wajah kami dari jendela, kawan-kawan terlihat sibuk mengipasi wajahnya, 44 mahasiswa membuat ruangan menjadi sesak. belum ada kipas angin, belum ada aliran listrik dalam ruangan.

Kawan-kawan terlihat sibuk, ada yang berias, mendempul kembali bedak yang luntur diwajahnya karena keringat—dibalik itu kawannya duduk berhadapan mengatakan “cukup” bila sudah pas  tertata,  ada yang sibuk dengan binder menuliskan daftar pelajaran seperti dilakukannya masa sma.

Bak larutan gula yang menetes di meja makan, semut semut datang mengerumuninya bersamaan, satu persatu kulihat kawan baruku mengerumuni sebuah lingkaran, disana pasti ada sesuatu yang menarik perhatian.

Leher leher jenjang mereka dibalik kerudung pasti mengurat karena tawa mereka pecah begitu saja. Aku tetap pada karakterku, diam, mengamati dan mengerti. Sosok anak kampung yang berorasi saat OPAK ternyata ada di ruangan ini, perkataannya yang mengangkat perasaan ratusan mahasiswa kala itu telah memberinya jutaan sunyum dari wajah mereka yang kagum.

“ dulu kamu di dayah mana ?“ Tanya seorang padanya
“kamu mau tau aja atau mau tau banget?” pukasnya

Yang lain tertawa geli, nadanya medok meniru niru artis Jakarta, kulihat kaki mereka terhentak hentak kegirangan karena jawaban yang ditunggu mereka keluar juga. Bukan jawaban yang meraka tertawakan, namun gaya lebay yang membuat mereka tergelitik di perut.

Aku melihatnya berbicara, semua nilai kedaerahan terbawa dan terangkat bersamanya, pikiran, karakter, lelucon, prilaku semua tertempa karena keadaan. Dia bakal tampil menjadi seorang birokrat muda yang mampu bernegosiasi dengan pikiran dingin. Karakternya telah ditempa keadaan.

Mungkin di tahun 2003, dia sama sepertiku, menjinjing Bom Rakitan kosong, Mengusap Senapan, membakar darah di jalan, memastikan mayat disawah bukan keluarga, berlindung dibalik pohon, melihat tank mendobrak pagar halaman, melihat truck reo pulang pergi gampoeng ke gampoeng, pohon tumbang saat malam,  Gongonkiller duduk di semak semak belakang rumah saat senja dan malam, kadang ujung rokok yang menyala di semak semak saat malam persis sekali kunang kunang yang hinggap di dedauanan.

Lebih tepatnya dia mungkin berada pada posisi yang lebih menyakitkan, menjadi keluarga korban, sehingga dia terlatih menjadi penenang, memberi keceriaan bagi orang tuanya yang telah kehilangan, menemani perasaan duka sahabat kecilnya yang ditinggal saudara, atau menjadi sahabat ria berlarian dibawah hujan peluru.

“Fuadi kamu jangan lebay deh” seorang dari pendengar menyela –tapi nadanya meminta lelucon darinya lagi, nadanya menuntut perhatian, nadanya minta timpalan yang sama, nadanya minta sekeliling mengakui kedekatannya dengan PM Toh yang sedang melawak didepannya. Yang lain senyap, menunggu giliran masuk hitungan, mata mereka saling tatap, sesekali melihat PM toh, sesekali melihat rekannya yang menyela. Murid-murid akan terlihat berkerumun bersama tgk atau ustazah di Balai pengajian mendengar cerita Nabi Ayyub AS, begitu juga tak habisnya mereka berkerumun sekedar mendengar curriculum viteae-nya hari ini.

Dia mungkin bakal menjadi seorang sahabat akrabku—bahagian cerita Kazoku-ku, kesamaan pengalaman ada padaku dan padanya, bedanya dia periang dan aku pendiam, sesadarnya, aku mengingat namanya Fuadi

***




Mozaik VII

Pertemuan awal


Kami menuju sebuah ruangan di gedung studi jurusan dakwah, sebuah ruangan sesuai informasi akademik, tertera jelas untuk setiap kami yang berada dalam ruang itu adalah unit 1 prodi bahasa inggris jurusan Tarbiyah, unit pilihan yang berisi mahasiswa terbaik saat tes akademik. Kami saling pandang, aku kenal dua orang mahasiswi, ada Ayu Sri Rahayu dan Dina Mahdarisa, mereka kawan SMA-ku dan SMP-ku selebihnya adalah homo sapiens asing.

Suasana sangat kaku bagiku, yang berasal dari dayah modern mereka berbahasa arab dan sesekali bahasa ingris, sedangkan aku bingung memulai pembicaraan dengan mereka, aku masih sendirian.

Bagiku, berteman itu untuk saling menukar informasi, saling menanyakan keadaan, saling bertukar pendapat, maka kelas ini bukanlah kelas yang mendukung aku saat ini.

Mahasiswa lalu lalang di kelas mencari kursi kosong, kadang ada yang ke ruang lain menarik kursi disana, suasana menjadi ribut, gesekan kursi terdengar dimana-mana, sifat bawaan siswa lulus UN dengan Kopean pun mengubah kembali suasana kampus menjadi kelas SMA sederajat.

Aku duduk bosan menunggu dosen datang, kubuka KRS kembali untuk melihat mata kuliah yang akan berlanjut hari ini, diantaranya tiada yang aku pahami, ada Metodelogi Penulisan Karya Ilmiah, Ulumul Quran, Pattern Practice, Ushul Fiqh, Ushul Hadis, bahasa arab 1, Vocabulary 1 dan Metodelogy Study Islam jumlahnya 22 sks. Aku mengangguk dan berkata inilah kuliah, pantas saja orang tidak sanggup mengikuti pelajaran yang begitu banyak—3 tahun kemudian aku tahu bahwa kampus lain menyertai pelajaran pokok lebih banyak dari semester pertama. Maka kampus ini lebih banyak belajar agama ketimbang fokus pada program study tersebut.

Hi”, seorang mahasiswi menyapa

Hi juga, dia mengenalkan dirinya ”Sadri”, dia senang sekali melempar senyum, jiwanya begitu bersemangat, tubuhnya berisi dan sedikit gemuk dipinggang—bukan idamanku. Pandanganku terpaku pada satu arah, Aku melihat dalam keramaian kelas, mereka berbahasa arab, aku tidak mau bergabung, kubuka buku seolah sedang membaca---untuk memberi kesan rajin pada semua mata yang melihat.

Disudut kelas, terlihat mata yang begitu indah, besar memancarkan aura keanggunan pemiliknya, bola matanya berhiaskan sinar surga, lentik bulu matanya lebih indah walau tidak dipasangi bulu mata rias, hidungnya mancung, kulihat cara dia menyentuh hidungnya dengan badan luar jari telunjuk memberi kesan dia bukan wanita pada umumnya.

Seketika, kelas yang sangat ribut dan membosankan berubah menjadi gedung bioskob, semua Homo Sapiens terlihat berjalan mengambil kursi duduk sesuai nomer tiket yang dibelinya di depan pintu masuk, di pintu siswa yang memastikan alamat ruangan terlihat seperti orang yang sedang memesan tiket, wajahnya gusar karena terlambat dan tiketnya kehabisan,

Aku telah memutar menyesuaikan bangku dengan layar tancap yang sedang memutar film, 66 nama cinta sekejab telah kulafalkan semua, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengilhamiku memaknai apa yang sedang kurasakan, darah membuncah dan naik keubun-ubun, degub jantung begitu terasa, menunggu apa yang dilakukan selanjutnya oleh putri Kimnya Itu

Pakaiannya boleh sederhana, aku yakin itu tidak akan bertahan lama, dia tidak akan menutupi jati dirinya. Akan bergejolak jiwanya untuk memberitahukan dunia dialah yang tercantik. Aku menatapnya dalam, aku terpaku pada kursiku di tengah kelas, seolah aku berada dalam kesunyian, yang kurasa adalah kebahagiaan seorang petaruh memenangkan taruhan Bola jutaan dollar, tidak ada yang dapat menghalangiku merasakan perasaan ini.

Aku tidak mampu bergerak, mataku tidak berpindah, layar lebar di depanku sedang memutar film terindah dengan pesona pemeran utamanya begitu mengagumkan, tawanya, lemparan senyumnya, tangan mungilnya yang melambai, sekedar bertegur sapa dengan pemeran figuran disampingnya yang mencoba memperbaiki tutur mereka. Sesekali kulihat dia mengarahkan tangan kanannya dengan gemulai menutup tawanya yang merdu sekedar memberi kesan dia sedang mendengarkan orang lain berbicara

Aku tidak mau melewatkan sedetikpun adegan yang dia mainkan, mataku tak berkedip sama sekali, aku masih duduk di kursi tengahku , tanganku mencoret coret kertas yang kubawa untuk menulis catatan hari kuliah pertamaku. Ternyata Aku menuliskan Dialah artis pujaan hatiku secantik “Sonya Pandawarman”.
                                                                                                                            

***

Mozak VI

Sesengukan

Rambut cepak, masih kuingat nomernya 2 dan 3; dua untuk samping, tiga untuk atas. Mengulang-ngulang kembali, sambil kumasukkan dalam tas karung yang baru selesai kubuat, ada Wortel, apel, teh botol , 2 butir telur, tas terbuat dari karung beras, topi sudung, papan nama sudah kusiapkan sehari sebelum masa peloncoan di kampus, ini syarat mutlak untuk lulus OPAK kata panitia registrasi sebelumnya— namun aku mendengarnya ini syarat untuk lulus menjadi mahasiswa STAIN Malikussaleh.

Dengan Nada cemooh aku menggumam untuk apa ini semua bagiku, apa untungnya mempersiapkan hal konyol seperti ini, aku terpaksa melakukan. Biar nanti kuselesaikan dilapangan. Kekejaman senior di beberapa sekolah telah menjadi sebuah kriminalitas, sampai aku melihat jelas laporan-laporan orang tua kepada pihak berwajib atas perlakuan kakak letting tehadap anaknya, aku melihatnya di RCTI, TV One, Metro Tv, Trans Tv dan TVRI

Jam 07:00 pagi aku sudah dalam barisan ala serdadu, di setiap persimpangan jalan kulihat orang bertubuh besar tegap memakai seragam Polisi Militer (PM) dimana-mana, Gongonkiller merayap lagi dalam pandanganku—kenapa sampai ranah mahasiswa mereka datangi? Apa yang mereaka cari intaiku, Badanku kecil, bila diterpa angin, baju besar yang kupakai bakal membentuk likuk tubuh mungil, terutama bagian dada. Tepos. Membuat sulit memperkokoh nilai percaya diriku.

Hari peloncoan begitu mencekam bagi kami Anak SMA yang baru lulus UN. Aku takut PM turun tangan melakukan perpeloncoan terhadap kami, kasus IPDN menjadi catatan sejarah kekejaman pendidikan disana. Tak dinyana seorang dari kami tidak membawa atribut badut yang diperintahkan. Dia dipanggil, dibawa keruang introgasi, semua peserta bungkam, takut, tidak lagi berani beradu mata dengan panitia, apalagi dengan PM yang berdiri menghalau seluruh armada angkutan di Jl.Lintas Medan-Banda Aceh. Sampai mengamankan  gedung-gedung studi perkuliahan.

Mereka menyisir barisan kami, tidak ada yang terlewat, seorang dari mereka berdiri di samping barisanku, aku terkepung dalam situasi darurat, pikiranku tidak lagi membaca keadaan, tubuhku berdiri kosong, kaku, tidak dapat bergerak.

Kupecahkan Rahang kau, Baris Yang benar. PM itu menghardikku.

Suaranya lantang, matanya bulat, alisnya menyatu, memandang penuh kedalam pandanganku, aku rabun, tidak ada lagi yang terlihat, dia berhasil membidikku tepat sasaran, pikiranku terkotak, Aku membisu, suara kecil keluar tanpa perintah, aku sesengukan, matilah aku.

Dia benar benar membunuh karakterku, sesengukan muncul tiba tiba. Rencanaku ingin menyatakan sikap tidak setuju terhadap perintah perintah panitia lenyap sudah. Tidak ada yang bisa ku lakukan sendiri, benar benar aku tak lagi berguna. Mereka telah merencanakan segalanya dengan sistematis.

Hari ke-3 perpeloncoan, kami duduk dibawah tenda, menyimak seluruh dosen menyampaikan informasi terkait kampus dan pekuliahan, itu puncak acara, disekeliling terlihat seluruh pengurus himpunan berada disekeliling kami, bendera mereka bermacam macam, aku melihat kain petak hijau, LDK Al-Kautsar, Merah, silat Tapak Suci,  Coklat, Pramuka, Putih Dema, HMJ dan HMP. Seluruhnya ada. Bahkan organisasi eksternal juga berhasil tembus pada OPAK kali ini. Dua himpunan itu PMII dan HMI. Biru dan Hijau-Hitam. mereka menyapa dengan lembut, kadang memperlihatkan sifat tegas mereka—nanti aku juga bakal tau mereka adalah mahasiswa ber-IP kurang lebih  2,5.  

Panitia memanggil peserta yang dianggap bersalah kedepan, mereka ternyata telah merencanakan sesuatu yang belum aku ketehui, satu persatu nama dipanggil, mereka maju pelan dengan langkah yang berat, di depan podium mereka berbalik kearah peserta lain. Inilah awal  perkenalanku dengan salah seorang calon mahasiswa,-- tiga mahasiswa unggul nantinya .

Situasi kaku, panitia berkumis melenggak lenggok di depan barisan, sambil memegang microphone. Pria baret tentara kulihat juga mengambil tempat disisi barisan kami, selembar kertas hasil komentar peserta yang dikumpulkan panitia dicampakkan ke muka peserta itu,
“baca” katanya
Peserta gugup bukan main, dengan suara terbata-bata, dia membacanya

“untuk panitia, terutama yang sok-sok jadi tentara
Jangan belagu deh, sok banget jadi orang
Yang bikin keliatan hebat Cuma baju  kamu
Seenaknya kamu berbuat sesuka hati
Kamu itu tidak lebih seorang mahasiswa
Berlakulah sebagai mahasiswa supaya kamu bermartabat”

Mahasiswa berpakaian ala militer itu pun meluncur kedepan bersama rekannya, ingin menghantam muka anak yang dihakimi panitia itu—dibalik itu sebenarnya panitia mengerjai dia kebetulan ulang tahun.
Semua histeris, cemas, takut dikeluarkan dari kampus, semua bungkam. Aku melihat keadaan dan mencoba menguasai keadaan, rasa geramku dikerjai selama 3 hari tidak terbalaskan sampai hari ini.
Para peserta OPAK kelelahan, ada yang tumbang, tim evakuasi KSR turun kelapangan mengangkat peserta yang telah terkulai lemas, aku melihat sorot mata teman teman telah padam, rasa lelah dan geram belum terobati juga setelah panitia meminta maaf.

Dalam keadaan yang demikian kaku, ada sesi penyampaian kesan dan pesan dari peserta opak, muncul seorang peserta , dia hitam, kecil, baju hitam putih memperlihatkannya seolah sebagai seorang pelamar kerja, sudung dikepalanya terkesan dia menjadi seorang petani, tas karung beras yang dikalungkan di lehernya membuat dia semakin gokil. Dia yang berani muncul ditengah kekakuan peserta lain yang tegang urat sarafnya dikerjai panitia selama 3 hari.
Dia berujar
“ panas kawan-kawan?”
“panas“
“ bukankah panas ini tidak sepanas perlakuan panitia?
iya”
Cekikikan, Gelak tawa muncul begitu saja, jujur sekali nadanya membuat seluruh peserta menghilangkan kekakuan selama ini. Aku sadari karakter seperti ini akan menjadi tokoh yang akan mudah melesat menjadi seorang pemimpin. Jauh kita lihat kondisi psikis masyarakat aceh yang tertekan oleh perang, tegang setiap saat menunggu sanak family yang mana harus di salatkan, mereka butuh humor yang meredakan kegundahan selama ini, maka karakter kocak dan humoris akan selalu menjadi idola dan tidak jemu-jemu mereka mengangkatnya sebagai pemimpin mereka.

Bukankah sudah terbukti tokoh aceh di senayan adalah para actor humoris dan budayawan? H. uma dengan parangnya menuju senayan, Rafli kande dengan lagunya menggoyang kantor Presiden. Apa yang kurang membuktikan aceh butuh pemimpin yang humoris.


***

Mozaik V

Alone

 Pagi, jam 09:00, matahari terlihat ramah sekali untuk diajak bertatapan, sekedar untuk mensyukuri nikmat yang Allah berikan, aku duduk di atap Balai pengajian—sebenarnya lantai dua Balai yang belum selesai, seperti RUKO, nantinya bakal menjadi basecamp MUZA 2014, kupandangi kota Lhokseumawe yang elok. Kearah utara, terlihat waduk buatan yang indah, jalannya melintasi laut seolah jembatan layang diatas air. Sisi barat terlihat Qubah Mesjid Islamic Center yang begitu indah, jarak yang jauh menghasikan panorama yang indah saat awan awan menutupi pandanganku kearah qubah. Sisi selatan terlihat keramain simpang jam, persimpangan yang menghubungkan 4 jalur arah berlawanan. Segala aktifitas akan terlihat sibuk pada pagi hari dan sore hari. Sisi timur terlihat bangunan berlantai dua, kicaauan burung wallet sudah tentu berasal dari situ, terlihat lubang lubang seperti pipa di dinding gedung mulai dari atas sampai bawah tempat yang dibuat cina untuk peternakan wallet.

  hari ini kuputuskan untuk kembali ke Buket Rata untuk sekedar melihat kampus STAIN Malikussaleh yang menurut informasi beralamat dekat sekali dengan jalan besar. Informasi baru bahwa jalan ke kampus ini ada dua, pertama jalan Elak dan satunya lagi Jl. Simpang Auri.

Seperti biasa, aku akan sarapan di kedai kopi,  jajaran kedai kuperhatikan ramai sekali, kedai-kedai yang menjual sarapan selalu penuh dengan pengunjung, aku yakin sebagian besar penduduk kota lhokseumawe itu tidak sarapan dirumah. Dalam imajinasiku ibu rumah tangga menjadi agen pertukaran rupiah paling aktif, mulai dari sarapan hingga air minum beli saja kerjaannya. Inilah Lhokseumawe

 Kecewa atas kegagalan kemarin mencari gedung tarbiyah melalui jl. Simpang Auri aku memutuskan untuk masuk melalui jl.Elak. hari ini aku berangkat seorang diri, eko berangkat ke kampus yang berdekatan dengan kampusku, dia sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk kesan kuliah pertamanya.
Sesampai di jalan elak aku melihat hamparan tanah luas.

Aku berdiri menghadap barat, Hamparan tanah luas kelihatan tak berujung dan tidak dibatasi pagar, tanahnya kuning dan gersang karena dibakar matahari, diwaktu pagi udaranya masih sejuk dan betah berlama-lama untuk sekedar menikmati pemandangan,  tanah ini telah ditimbun untuk sebuah proyek pembangunan. 2km kedepan kulihat tumbuhan tropis tumbuh menghijau nan indah, dibatas hijau inilah mungkin gedung-gedung perkuliayahan STAIN Malikussaleh akan berbatasan dengan hutan.

Diatas hamparan tanah luas itu, berdiri tiga buah bangunan dan terdapat sebuah bangunan jauh terletak di puncak seberang, 3 buah bangunan ini tidak beratap, tidak ada jendela, lantai atas masih ada kayu-kayu penyangga lantai, pastinya sedang dilakukan pengecoran semen.

Aku masuk ke sebuah gedung yang nantinya menjadi gedung Studi Jurusan Syariah, puing-puing keramik berserakan bagai terkena hantaman bom Martil. Tembok dinding rusak sebagian -- dugaan sementara ini kesalahan meramu semen dan pasir oleh kuli bangun atau ini bentuk penyesuaian anggaran yang minim. terus kedepan aku masuk ke kamar mandi, betapa biadabnya orang-orang mengencingi tempat tanpa izin, kotoran manusia tidak jauh beda dengan kotoran lembu yang saling silang bertumpuk di lantai. Siapapun pelakunya pasti bukan mahasiswa.

Aku terkesiap melihat beberapa orang keluar dari sebuah bangunan tidak jauh dai gedung syariah kira –kira 300 meter, mengenakan tas, berkacamata, polos, seperti anak sma.

Bagaimana mungkin bangunan belum selesai dibangun telah difungsikan, serpihan keramik, kayu balok yang menempel di dinding, kamar mandi jorok, kelas tidak ada kipas. Rasanya aku salah alamat lagi—dalam hati mungkin aku sudah salah mendaftarkan diri ke kampus STAIN Malikussaleh. aku meredam rasa ingin tahu, dan melangkah kearah keramaian.


Panitia registrasi OPAK (orientasi pengenalan akademik dan kemahasiswaan) telah duduk di sebuah meja, disudut ruang gedung Dakwah. Aku menyerahkan segala persyaratan yang dimintai termasuk uang pendaftaran—nantinya aku akan tau bahwa itu tidak ada pertanggung jawaban untuk keuangan Negara.

Mozaik IV

Sarang GongonKiller

2011. Pukul 02:00 Siang, Hari ini suasananya panas, matahari membakar segala sesuatu yang terlihat, dari jauh uap uap aspal di jalan kelihatan seperti genangan air, sebenarnya itu adalah fenomena alam yang terjadi saat panas matahari mendekati 32 derajat. Orang orang kelihatan berteduh di kedai kopi, di sudut kedai kulihat sosok manusia yang kukenal.

Dia melihat, langkah kakinya sudah pasti mengarah padaku, langkahnya pelan tak dihiraukan aku terbakar dibawah sinar matahari. Aku tak sabaran, motor yang kubawa ku gas kencang untuk menarik perhatiannya, “Aku sudah terlambat !

Dia mempercepat langkah, ku bonceng dia ke kampus. Jarak antara rumah dan kampus begitu menantang, terkapar di jalan atau tiba dengan keringat di badan. Resiko menghabiskan waktu selama 15 menit di jalan raya.

Namanya eko, teman ku dari minggu pertama aku menginjakkan kaki dikota Lhokseumawe 12 tahun silam, kalau ada orang yang tahu segala tentangku itulah dia. Badannya kurus, kulitnya sawo matang, ketika kami sama sama di satu Balai pengajian, dia dijuluki paicong, aktor laga di sinetron Jaka tingkir.

Dia bersemangat sekali untuk menjadi orang berkulit putih, baginya putih itu keren dan sempurna untuk dijuluki manusia tampan. Maka aku sering melihatnya memakai luluran, memakai perawatan kulit wanita sebagai usaha menukar kulit sawo matangnya dengan warna putih, bahkan dia tak sungkan menggunakan lulur kering dengan cara di gosokkan ke badannya seperti bedak—warna kuning berbentuk serbuk halus olahan pabrik mustika ratu, untuk sekedar menghabiskan waktu menunggu sore untuk mandi.

Dalam perjalanan dia bergumam, sepertinya mengkritisiku mengajaknya untuk menemaniku mencari kampus STAIN Malikusaleh yang baru pindah dari Lancang Garam Kecamatan Banda Sakti jauh ke Alue Awe Kecamatan Blang Mangat.

“mas Bro, kau tau pasti dimana tempatnya?

Tanyanya pasti, namun khawatir, mata sipitnya menunduk, jaketnya ditarik hingga melindungi wajahnya dari sinar matahari, mungkin juga menghalangi kontak mata denganku lewat spion. karakternya ciut tertutupi karakterku yang memimpin, dia akrab, tapi selama ini sebenarnya menjaga jarak denganku, Seolah dia takut aku melakukan sesuatu kepadanya, seolah hidupnya terancam bila bepergian denganku, tapi dia bungkam. Aku tidak tahu apa yang sudah dia lakukan terhadapku selama ini sehingga dia sedikit mencerminkan rasa bersalah.

Dalam perjalanan, kibaran bendera terlihat dimana-mana, aku senang bukan kepalang, garis garis hitam putih diatas kain merah memberikan kesan wilayah ini telah mengatur nasibnya sendiri, identitas keacehan tak perlu ditutupi, yang dulu, sebagian Homo Sapiens asli penghuni di wilayah aceh tidak boleh dinamai Abdullah, Abdurrauf, Jafar, Fatimah tapi harus dinamai susianti, suwarno, susilo, widodo, atau bahkan kasih nama saja sunarwan, sukijan, sutriman, sukirman supaya diakui Negara sebagai warganya dan berhak mendapatkan pekerjaan.

Disudut jalan, terlihat pajangan Poto kera  Aceh yang dulu menjadi Kera Hutan, kepala gerombolan kera perusak tanaman pisang masyarakat saat kelaparan, penganggu di jalan lintas, menodong untuk beras, pakaian dan uang jajan.  yang selalu diburu oleh GongonKiller.

Air mukanya keras, menjelaskan pengalamannya selama ini bertahan di hutan belantara, kubangan darah, nanah yang membusuk, menahan lapar, berjaga malam. Semuanya telihat di wajahnya. Mataku tertunduk sementara menghayati apa yang sudah dia lakukan untuk martabat bangsanya.

Kini dia terlihat bersih dalam balutan baju seragam putih nan bersih, berkopiah hitam, disisinya juga berdiri seorang yang sama dengannya, yang juga hidup sebagai kera di hutan. Mereka berhasil keluar hutan dengan makmur. Namun dengan apa yang diperjuangkannya kurang serasi dengan lambang burung rajawali  di kopiahnya, seharusnya singa buraq.

Motor yang kukendarai menerabas jalanan dengan perasaan bangga dan unyu untuk diceritakan.

Mas bro, kita sudah di buket rata, kemana lagi?”

“Kita akan masuk lorong itu” jawabku. Stang motor ku banting ke kanan untuk menyebrang jalan. Kami pun berdebat soal tempat, ini sudah jauh sekali mas bro, kita balik, ini bukan lagi kampus, sudah hutan, “ memang kampus ini di hutan kataku, Cuma kita perlu kesabaran untuk sampai disana. Eko mulai geram dan diam seribu bahasa. Ku hentikan motor tepat di tengah hutan, dalam hitungan 5 menit kami sudah keluar jalan besar dan tiada kehidupan disini.
Kulihat setiap sudut hutan, ada saja sarang gongon killer. Mereka seperti bunglon, serasi sekali dengan warna dedaunan lebat. Mereka terlatih untuk hidup merayap. ”Mas Bro, kita pulang saja. Kampusmu tak terlihat disini”. Inilah yang menjadi masalah, kuliah di sekolah tinggi tak ternama, mungkin dalam bayanganku kampus ini memang sudah tak beratap.
***


Mozaik III

GongonKiller

Seolah aku berada dalam kondisi kubungan perang Aceh-RI 2013. Mataku mencari cari celah keluar dari kubungan Homo Sapiens yang seolah menyergapku. Mata mereka seperti peluru yang menghantam, bidikan pada dahi mungilku, pekikan mereka seolah menyelidiki rahasia apa yang kusimpan selama ini, semakin aku diam semakin lama mereka mengintrogasiku, semakin mereka mendekat seperti kepalaku mau pecah terkena tendangan sepatu IPDN. perasaan yang kualami terbawa jauh melampaui 12 tahun silam. Keringat bercucuran di pelupuk mata, badan diam ditempat, nafas tertahan di sela sela gigi, para homo sapiens lalu lalang di hadapanku tak kuhiraukan.

Yang ingin aku lakukan adalah segera keluar dari kungkungan Homo Sapiens, menarik nafas sebanyak mungkin dan berteriak sekuat tenaga untuk menunjukkan pada mereka aku bukan orang lemah. Rasanya itulah yang selalu aku lakukan setidaknya dalam pikiranku. Belum pernah sehari pun aku melalui hari dengan nyaman tanpa beban pikiran yang ringan. Selalu terusik dengan hal kecil.  Daerah tempat aku berdomisili sekarang cukup aman atas serangan apapun, jadi yang kualami hanyalah masalah traumatik masa lalu yang belum selesai. Bagiku Lhokseumawe adalah kota idaman pejuang pejuang untuk meluruskan niatnya berbaur dengan masyarakat.

Suhu cuaca kota ini bisa mencapai 32% celcius, angin bertiup kencang, membawa suhu panas menerabas lobang lobang kecil si sudut kota, tak ayal semua besi akan karatan dengan sendirinya, proses pengaratan cukup cepat dikarenakan kandungan garam pada udara daerah setempat dipengaruhi air laut yang tidak jauh dari kota.

Di sebuah lorong terlihat rumah kumuh, rumput tumbuh subur disebarang tempat, dinding rumah, lorong rumah, di dalam pot bunga, namun kita akan tahu rumah itu adalah tempat yang dulunya sangat popular dan selalu ramai dan terawat. Terlihat dari bangunan yang luas, cat dinding putih walau telah mengelupas dimakan usia dan terpajang papan nama “Balai Pengajian Rayatussunnah ”. dibelakang bangunan itulah aku tinggal, sejak dipungut oleh adik kakek ku.

Ukuran bangunan cukup menyediakan ruang 3x4 untuk 3 buah kamar tidur, 3x12 meter untuk ruang tamu, dibelakang terdapat sebuah dapur ukuran 3x6 dan sebuah kamar mandi ukuran 3x4. Dari No sertifikat rumah 582, tanggal 5 juni 1978 menunjukkan rumah itu sudah sangat tua, tua dengan meninggalkan nilai arsitektur rumah pada saat itu.

Aku terbiasa mengurusi rumah itu sejak ditinggal nenek sejak kelas 2 sma, sesampah yang datang dari guguran daun pohon jambu selalu aku bersihkan 2x seminggu, sesampah dari bunga bunga taman sehari sekali, sesampah pohon mangga sebulan sekali, sesampah dari pohon pisang sekali panen sekali dan membersihkan debu setiap pagi dalam rumah.

Kala senja aku duduk di atas atap bangunan rumah melengu dan membisu, kadang aku dihampiri oleh gongonKiller, mengiang-ngiang dalam otakku, sosoknya kekar berbalut loreng, darah turunan kera aceh melumuri sepatu bootnya, sepertinya dia baru selesai berburu di hutan. Kadang aku bertanya walau aku harus menjawab sendiri “berapa jumlah kera aceh yang telah kau bunuh hari ini?”

Ingin kulempar dia ke bawah, setiap dia menghampiri dan mengejekku kala sendiri, bila pun dia membidikku dengan senjatanya tak kan membuatku gagap memekikkan padanya “tiada seorangpun anak berdarah aceh yang tidak merindukan Kemerdekaan”. Kala itu dia pun hilang dari pandanganku, terbang menjauh, semakin mengecil dari pandanganku, aku sadar dia akan kembali lagi saat aku kembali duduk disini sendiri.


***


Minggu, 01 Mei 2016

Mozaik II

Untung Sajalah

Dingin sekali air sumur tua, satu timba, dua timba, tiga timba. Cukuplah kata hatiku yang tidak tahan merasakan air sumur tua yang konon katanya sumur itu adalah peninggalan leluhurku 120 tahun yang lalu. Suasana menjelang magrib memang cukup menakutkan, ditambah dengan perasaan takut pada setan setan yang keluar pada waktu itu, setan setan yang terbirit birit kena azan dari TOA meunasah samping rumah membuat suasana mencekam.

Kulirik kanan, kekiri sambil memegang handuk di helat pinggang, tubuhku menggigil, dingin air sumur tua beraroma bunga sedap malam kian menjadi. Kakiku melangkah keram. Burung hantu menyemangatiku dari dahan pohon mangga yang tidak jauh dari sumur tua.

Suara langkah terdengar agak sayup sayup, burung hantu kian menjadi, entah apa yang dilihatnya, aku terperanjat. Puuuut, Puuuut, Puuuut. Lirih sekali bunyinya. Handuk yang melingkar kupegang kuat kuat, kupalingkan wajah pelan pelan kearah semak semak belakang sumur tua. Kakiku melangkah mundur hendak menjauhi sumur. Gubrak, suara tanpa intruksiku keluar sendiri “Buroooong, buroooong, Buroooong” aku menutup pintu depan rumah takut Burooong berhasil mengejarku saat lari tadi.

Suasana batinku mulai reda setelah salat magrib, siul siul burung membenarkan bahwa malam semakin pekat, aku melongok kearah luar dari sudut jendela depan, gelap sekali, lampu mati, “Plak” sontak seisi rumah meramaikan suasana seperti burung berceloteh cacian ke PLN. Kemudian senyap tak bersuara. Lampu padam. seolah listrik tidak menjamahi desaku ini.

Di rumah aku tinggal bersama dua orang adik, seorang nenek, dan seorang ayah dan ibu. Terdengar Nyanyian yang begitu menyeruak seisi rumah,

“Indonesia Tanah Airku, Tanah Tumpah darahku,…”

itu nada dering handphone ku” kataku sembari meneguk air kopi

Seisi rumah kaget dan gelak tawa muncul begitu saja, gigi putih ayah terlihat terang sekali dalam kegelapan, cahaya bulan turun ke bumi tepat sekali mengenai gigi ayah yang sedang tertawa, sehingga kami dapat mengetahui jelas posisi duduknya di tengah kami, ibarat cermin yang mantulin cahaya, cahayanya mantul kembali ke lensa-lensa mata yang tepat berada di sisi sudut rumah, dekat pintu depan dan dibawah tingkap (jendela).

Ssssst, dia datang…


Ayah mengalihkan perhatian, suasana kelam malam terbawa pada masa sebelum MoU Helsinki. Perawan Bunting, Aneuk Bajeung, batu berjalan, rimung rungkhom, ninja sakura, penunggu hutan meuriya, setan Maraheut. Fenomena Kojet, Geunteuet, Arwah gentayangan, Masruuk adalah phenomena mistis atau roh gentayangan masa silam.

Yang semua itu timbul pada satu waktu, jam malam. Asap asap menyelimuti kedatangan aura setan pembunuh, mulai keliatan menyahuti pekikan burung hantu yang mengarah angin, asap weue lemoe, bau bau kayu magis melalang ke hidung hidung penghuni rumah kian mendukung jalan ceritanya.

Aku terlempar pada sebuah peristiwa masa kecil, minggu itu aku menuju ke rumah nek mah, pukul 7 pagi, hari minggu memang sudah menjadi tradisi anak-anak nonton Ninja Ranger di rumah antenna UHF, Nek Mah. Desa ku berhunikan petani sawah berpenghasilan cukup makan sehari hari, listrik pun masuk kira kira tahun 98. Jadi daerah ini cukup awam mengenai teknologi informasi.

Sesampai aku di rumah itu, aku melihat kedalam rumah tidak satupun teman teman disitu, aku berlari ke rumah paman yang seumuran denganku tidak jauh dari rumah antenna UHF, kutarik lengan pamanku, sambil bercanda, ku katakana bahwa ranger hijau telah tiba hari ini. Pamanku orangnya jenaka, dia suka sekali adegan adegan power ranger. Setiap hari ada saja jurus baru darinya untuk melawan monster.

Kuraih sepeda di samping rumah, aku membocengi paman, seolah tidak cukup lagi waktu untuk menonton, ku kayuh secepat mungkin. Tiba tiba, jauh seberang sawah, keliatan jalanan besar telah hijau dengan baju loreng PAI. Pasukan pemusnah bangsa aceh, stereotip pengganggu keamanan kata jakarta.

Sepedaku tepat menghantam sebilah pohon kelapa yang ditumbangi prajurit malam, aku, paman terpental kedalam pohon Seke. Duri-durinya memenuhi seluruh badan dan wajahku, kami tidak lagi bangun untuk sementara waktu, sampai hujan peluru benar benar reda. Sunyi dan waspada, kami saling menatap seolah mempersiapkan diri untuk berlari sekencang mungkin menjauhi arena pertempuran.

Ho Lom Ta Jak ?

Aku bingung menjawab pada pamanku, wajahnya pucat pasi, seolah ayah, ibu, kakak atau abang telah mati di rumah. Kaki, tangan gemetar ibarat handphone menerima pesan masuk atau panggilan. Dengan ringan aku bilang kita berlari ke rumah di Krueng Dheu.

Aku menarik napas, dan terkejut keluarga memandangiku seketika lampu hidup kembali, perasaan cemas ditangkap oleh ayah, ibu, adik dan abang. Sambil mereka memegang pundakku,
“sudahlah, lupakan semua yang telah terjadi, untung kita masih mendapat rahmat dari Allah SWT. Hingga hari ini tidak perlukita risaukan kejadian yang telah berlalu.” Kata ayahku sendu.

Sudah menjadi hal yang lumrah, Untung adalah kata syukur orang aceh atas keselamatan harta, jiwa dan raganya. Berbeda dengan cina yang selalu rugi dalam segala hal, walau nyatanya cina itu untung berlipat ganda pada dagangannya. Rugi waktu, rugi tenaga ada sajalah yang mereka rugikan dalam kehidupannya.


 Pelajaran #2 hidup bersyukur dengan selalu beranggapan untung dalam setiap tragedy.