Selasa, 05 April 2016

Mozaik 1

Si Sabar
Di wall facebook masih menyimpan rahasia kecil masa SMA yang tidak luntur selama tujuh tahun, mouse mungil kugerakkan perlahan untuk menikmati nostalgia  masa itu, senyum bahagia masih bisa kurasakan di pipi kanan dan kiri hingga membuat kebas wajahku menahan senyuman yang tidak hilang saat memandangi foto-foto lugu dan terkesan polos ruman wajah masing masing temanku sekelas. Aku mencoba mengamati kembali sebuah foto yang tergambar jelas wajah wajah sahabatku saat itu, dengan wajah yang serius kulihat satu persatu wajah wajah itu, ada gambar wajahku. Aku perbesar gambar itu dengan zoom aplikasi PICASA di laptop. kuamati dengan mendalam foto itu, posisiku berantakan, entah terlalu cepat dijpret kamera, entah itu aku adanya yang galau sehingga aku belum siap difoto. seolah menceritakan aku sebagai anak yang minder, dan tidak bisa mengambil posisi yang kompak untuk jepretan foto.

Kucoba ingat kembali kejadiaan di foto, ternyata diambil pada acara ulang tahun Sri Mulyani, teman kelasku yang berulang tahun saat itu.  Acaranya berlangsung di rumah , peristiwa di foto sontak membuatku seolah mendapat jawaban atas masa masaku saat ini, aku coba menfokuskan pikiran kedalam masa lalu sambil memegang kening dengan tangan kanan. “ayo pikir pikir pikir teriakku dalam hati” belum juga aku menemukan kenapa aku jelek sekali pada posisi foto itu. Kugerakkan mouse lagi dengan tergesa gesa dan berharap aku menemukan informasi tambahan kenapa aku bertingkah aneh saat itu.

Aku beristrahat dan menarik nafas dalam dalam, tiba tiba muncul pikiran bengis dan jantung berdebar  “ andai aku mengambil peran strategis pada pergerakan  muza 2014 saat itu maka tak ada yang perlu kusesali. Aku menarik nafas kembali, kuhembuskan pelan-pelan supaya aku dapat merasakan udara keluar dari dua lubang hidung, sesekali terasa mampet di hidung sebelah kiri, sesekali mampet disebelah kanan. Rasa ingin tahuku belum juga hilang,  sambil mengetuk-ngetuk pegangan kursi dengan jari telunjuk ,pikiranku mencoba membayangkan kejadian 7 tahun silam. Apa yang sebenarnya terjadi padaku saat itu.

MUZA adalah Tim pemenangan ketua Himpunan Mahasiswa di STAIN Malikussaleh Lhokseumawe, sebuah tim yang berhimpunnya mahasiswa dari kelompok kupiah meuketop dan kelompok kupiah maleem. Muza diambil dari penggalan nama Muhammad Fuadi dan Zahlul Fuad (MUZA). Kesatuan erat hingga dinasti kepemimpinan berjalan langgam sukses menyuarakan dan mengkaderkan mahasiswa menjadi pemikir lihai perpolitikan dan intelektual.

Kubongkar semua foto di kronologi facebook, ku naik-turunkan layar laptop supaya loadingnya lebih cepat, jemariku seolah bekerja tanpa intruksi, mungkin rasa geramku yang membuatnya menekan mouse kuat kuat. “Akhirnya ucapku”  aku dapati foto foto yang sepertinya sedikit menjelaskan raut wajahku saat itu, baju juga cukup memberikan informasi tambahan, di sisi depan baju bertuliskan the-Fly (lalat). Walau harga murahan, tapi dia memberikanku kekuatan untuk tetap pada pendirian.tulisan pada bagian depan baju mewakili perasaan dan pola pikirku. Kekuatan kata-katanya seperti sihir yang memberikan kekuatan bertahan hidup seolah di dunia kegelapan.

Fly! Kata seruan untuk menghendaki keleluasaan, bagiku bebas itu bisa kemana saja, kapan saja, berteman dengan siapapun, dan dimanapun, aku kembali menarik nafas sambil berujar “Fly”. Tidak terasa aku sudah empat jam duduk diskursi kerjaku yang sederhana, terlihat awan merah menjelma menjadi payung di atas atap rumah, pohon pisang yang terlihat menyegarkan jiwa telah diselimuti gelap, tidak seberkas cahayapun tembus kedalam pepohonan hijau itu.

Dibelakang rumah, terdapat sebuah kandang ayam yang cukup memasukkan 50 ekor ayam, aku bangun dari kursi kerja menuju kesana, sambil memegang pinggang menggerutuk membunyikan tek tek di tiap persendian yang sudah kaku. Empat jam cukuplah membuat badan nyeri seluruhnya. Ayam ayam berlarian kearahku, semakin lama semakin banyak, aku terperangkap, kakiku tidak bisa diangkat sembarangan, jika kulangkahkan kaki pasti ada yang mati, atau aku yang rugi. Anak ayam mencoba naik satu persatu keatas kakiku. Ayam ayam terus berlarian kearahku sambil mengumpatiku, “ka ka tet, ka ka tet” (dengan aksen aceh untuk bunyi ayam betina).

Seolah mengerti apa yang dikeluhkan, aku mencoba meraih pakan ayam, “dedak” didalam plastik yang dikaitkan pada dinding kandang sebelah kiri menghadap kearah jalan. Dua orang melintasi jalan rumahku, semakin dekat, dua anak muda menjinjing karung berisi rumput.

          Assalamualaikum !

          Waalaikumsalam jawabku sambil mengangkat tangan kanan memberi penghargaan padanya telah menyapa. Kuperhatikan bentuk badannya dari belakang, pikiranku kembali teringat teman SMA dulu, badannya Kekar, giginya ibarat kukur bisa kupas kelapa, pernah kulihat bagaimana dia mengupas kelapa dengan mulutnya itu, kulitnya sawo matang. kerjanya belajar dan hobinya jadi anak gembala. Katanya bangga anak gembala calon pemimpin masa depan

          “Bukankah seluruh nabi dan rasul yang 25 tidak menjadi pemimpin sebelum dia gembala kambing pada masanya.?”

Aku tertawa kagum padanya yang membenarkan segala perbuatannya berdasarkan dalil dalil kehidupan. Namanya Sabaruddin, Ketua Osis SMA 1 Lhokseumawe, panutan anak-anak lain, kerasnya hidup tidak mengendurkan semangat juangnya dalam menoreh tinta keberhasilannya sebagai anak Pramuka. Sikapnya low profil sehingga dia tak jemu jemu dalam segala hal.

Pelajaran pertama yang Kuambil # jadilah pengembala kambing untuk melatih diri sebagai pemimpin.

Aku pun menggeleng-geleng kepala sambil menumpukkan dedak pada wajan, ayam-ayam  tak hentinya memanjatiku, dari kaki loncat ke tangan, kadang ke bahu, seolah induknya, aku dijadikan tempat mengadu segala pengalamannya mencari cacing hari ini. Satu persatu kumasukkan dalam kotak kardus untuk melindunginya dari dinginnya malam dan musang musang pemburu hewan kandang. Selesai sudah rutinitasku hari ini.


***




Tidak ada komentar: