Minggu, 01 Mei 2016

Mozaik II

Untung Sajalah

Dingin sekali air sumur tua, satu timba, dua timba, tiga timba. Cukuplah kata hatiku yang tidak tahan merasakan air sumur tua yang konon katanya sumur itu adalah peninggalan leluhurku 120 tahun yang lalu. Suasana menjelang magrib memang cukup menakutkan, ditambah dengan perasaan takut pada setan setan yang keluar pada waktu itu, setan setan yang terbirit birit kena azan dari TOA meunasah samping rumah membuat suasana mencekam.

Kulirik kanan, kekiri sambil memegang handuk di helat pinggang, tubuhku menggigil, dingin air sumur tua beraroma bunga sedap malam kian menjadi. Kakiku melangkah keram. Burung hantu menyemangatiku dari dahan pohon mangga yang tidak jauh dari sumur tua.

Suara langkah terdengar agak sayup sayup, burung hantu kian menjadi, entah apa yang dilihatnya, aku terperanjat. Puuuut, Puuuut, Puuuut. Lirih sekali bunyinya. Handuk yang melingkar kupegang kuat kuat, kupalingkan wajah pelan pelan kearah semak semak belakang sumur tua. Kakiku melangkah mundur hendak menjauhi sumur. Gubrak, suara tanpa intruksiku keluar sendiri “Buroooong, buroooong, Buroooong” aku menutup pintu depan rumah takut Burooong berhasil mengejarku saat lari tadi.

Suasana batinku mulai reda setelah salat magrib, siul siul burung membenarkan bahwa malam semakin pekat, aku melongok kearah luar dari sudut jendela depan, gelap sekali, lampu mati, “Plak” sontak seisi rumah meramaikan suasana seperti burung berceloteh cacian ke PLN. Kemudian senyap tak bersuara. Lampu padam. seolah listrik tidak menjamahi desaku ini.

Di rumah aku tinggal bersama dua orang adik, seorang nenek, dan seorang ayah dan ibu. Terdengar Nyanyian yang begitu menyeruak seisi rumah,

“Indonesia Tanah Airku, Tanah Tumpah darahku,…”

itu nada dering handphone ku” kataku sembari meneguk air kopi

Seisi rumah kaget dan gelak tawa muncul begitu saja, gigi putih ayah terlihat terang sekali dalam kegelapan, cahaya bulan turun ke bumi tepat sekali mengenai gigi ayah yang sedang tertawa, sehingga kami dapat mengetahui jelas posisi duduknya di tengah kami, ibarat cermin yang mantulin cahaya, cahayanya mantul kembali ke lensa-lensa mata yang tepat berada di sisi sudut rumah, dekat pintu depan dan dibawah tingkap (jendela).

Ssssst, dia datang…


Ayah mengalihkan perhatian, suasana kelam malam terbawa pada masa sebelum MoU Helsinki. Perawan Bunting, Aneuk Bajeung, batu berjalan, rimung rungkhom, ninja sakura, penunggu hutan meuriya, setan Maraheut. Fenomena Kojet, Geunteuet, Arwah gentayangan, Masruuk adalah phenomena mistis atau roh gentayangan masa silam.

Yang semua itu timbul pada satu waktu, jam malam. Asap asap menyelimuti kedatangan aura setan pembunuh, mulai keliatan menyahuti pekikan burung hantu yang mengarah angin, asap weue lemoe, bau bau kayu magis melalang ke hidung hidung penghuni rumah kian mendukung jalan ceritanya.

Aku terlempar pada sebuah peristiwa masa kecil, minggu itu aku menuju ke rumah nek mah, pukul 7 pagi, hari minggu memang sudah menjadi tradisi anak-anak nonton Ninja Ranger di rumah antenna UHF, Nek Mah. Desa ku berhunikan petani sawah berpenghasilan cukup makan sehari hari, listrik pun masuk kira kira tahun 98. Jadi daerah ini cukup awam mengenai teknologi informasi.

Sesampai aku di rumah itu, aku melihat kedalam rumah tidak satupun teman teman disitu, aku berlari ke rumah paman yang seumuran denganku tidak jauh dari rumah antenna UHF, kutarik lengan pamanku, sambil bercanda, ku katakana bahwa ranger hijau telah tiba hari ini. Pamanku orangnya jenaka, dia suka sekali adegan adegan power ranger. Setiap hari ada saja jurus baru darinya untuk melawan monster.

Kuraih sepeda di samping rumah, aku membocengi paman, seolah tidak cukup lagi waktu untuk menonton, ku kayuh secepat mungkin. Tiba tiba, jauh seberang sawah, keliatan jalanan besar telah hijau dengan baju loreng PAI. Pasukan pemusnah bangsa aceh, stereotip pengganggu keamanan kata jakarta.

Sepedaku tepat menghantam sebilah pohon kelapa yang ditumbangi prajurit malam, aku, paman terpental kedalam pohon Seke. Duri-durinya memenuhi seluruh badan dan wajahku, kami tidak lagi bangun untuk sementara waktu, sampai hujan peluru benar benar reda. Sunyi dan waspada, kami saling menatap seolah mempersiapkan diri untuk berlari sekencang mungkin menjauhi arena pertempuran.

Ho Lom Ta Jak ?

Aku bingung menjawab pada pamanku, wajahnya pucat pasi, seolah ayah, ibu, kakak atau abang telah mati di rumah. Kaki, tangan gemetar ibarat handphone menerima pesan masuk atau panggilan. Dengan ringan aku bilang kita berlari ke rumah di Krueng Dheu.

Aku menarik napas, dan terkejut keluarga memandangiku seketika lampu hidup kembali, perasaan cemas ditangkap oleh ayah, ibu, adik dan abang. Sambil mereka memegang pundakku,
“sudahlah, lupakan semua yang telah terjadi, untung kita masih mendapat rahmat dari Allah SWT. Hingga hari ini tidak perlukita risaukan kejadian yang telah berlalu.” Kata ayahku sendu.

Sudah menjadi hal yang lumrah, Untung adalah kata syukur orang aceh atas keselamatan harta, jiwa dan raganya. Berbeda dengan cina yang selalu rugi dalam segala hal, walau nyatanya cina itu untung berlipat ganda pada dagangannya. Rugi waktu, rugi tenaga ada sajalah yang mereka rugikan dalam kehidupannya.


 Pelajaran #2 hidup bersyukur dengan selalu beranggapan untung dalam setiap tragedy.

Tidak ada komentar: