Sarang GongonKiller
2011.
Pukul 02:00 Siang, Hari ini suasananya panas, matahari membakar segala sesuatu
yang terlihat, dari jauh uap uap aspal di jalan kelihatan seperti genangan air,
sebenarnya itu adalah fenomena alam yang terjadi saat panas matahari mendekati
32 derajat. Orang orang kelihatan berteduh di kedai kopi, di sudut kedai
kulihat sosok manusia yang kukenal.
Dia
melihat, langkah kakinya sudah pasti mengarah padaku, langkahnya pelan tak
dihiraukan aku terbakar dibawah sinar matahari. Aku tak sabaran, motor yang
kubawa ku gas kencang untuk menarik perhatiannya, “Aku sudah terlambat ! ”
Dia
mempercepat langkah, ku bonceng dia ke kampus. Jarak antara rumah dan kampus
begitu menantang, terkapar di jalan atau tiba dengan keringat di badan. Resiko
menghabiskan waktu selama 15 menit di jalan raya.
Namanya
eko, teman ku dari minggu pertama aku menginjakkan kaki dikota Lhokseumawe 12
tahun silam, kalau ada orang yang tahu segala tentangku itulah dia. Badannya kurus,
kulitnya sawo matang, ketika kami sama sama di satu Balai pengajian, dia
dijuluki paicong, aktor laga di sinetron Jaka tingkir.
Dia
bersemangat sekali untuk menjadi orang berkulit putih, baginya putih itu keren
dan sempurna untuk dijuluki manusia tampan. Maka aku sering melihatnya memakai
luluran, memakai perawatan kulit wanita sebagai usaha menukar kulit sawo
matangnya dengan warna putih, bahkan dia tak sungkan menggunakan lulur kering
dengan cara di gosokkan ke badannya seperti bedak—warna kuning berbentuk serbuk
halus olahan pabrik mustika ratu, untuk sekedar menghabiskan waktu menunggu
sore untuk mandi.
Dalam
perjalanan dia bergumam, sepertinya mengkritisiku mengajaknya untuk menemaniku
mencari kampus STAIN Malikusaleh yang baru pindah dari Lancang Garam Kecamatan
Banda Sakti jauh ke Alue Awe Kecamatan Blang Mangat.
“mas Bro, kau tau pasti
dimana tempatnya?
Tanyanya
pasti, namun khawatir, mata sipitnya menunduk, jaketnya ditarik hingga
melindungi wajahnya dari sinar matahari, mungkin juga menghalangi kontak mata
denganku lewat spion. karakternya ciut tertutupi karakterku yang memimpin, dia
akrab, tapi selama ini sebenarnya menjaga jarak denganku, Seolah dia takut aku
melakukan sesuatu kepadanya, seolah hidupnya terancam bila bepergian denganku,
tapi dia bungkam. Aku tidak tahu apa yang sudah dia lakukan terhadapku selama
ini sehingga dia sedikit mencerminkan rasa bersalah.
Dalam
perjalanan, kibaran bendera terlihat dimana-mana, aku senang bukan kepalang,
garis garis hitam putih diatas kain merah memberikan kesan wilayah ini telah mengatur
nasibnya sendiri, identitas keacehan tak perlu ditutupi, yang dulu, sebagian Homo Sapiens asli penghuni di wilayah
aceh tidak boleh dinamai Abdullah, Abdurrauf, Jafar, Fatimah tapi harus dinamai
susianti, suwarno, susilo, widodo, atau bahkan kasih nama saja sunarwan,
sukijan, sutriman, sukirman supaya diakui Negara sebagai warganya dan berhak
mendapatkan pekerjaan.
Disudut
jalan, terlihat pajangan Poto kera Aceh
yang dulu menjadi Kera Hutan, kepala gerombolan kera perusak tanaman pisang
masyarakat saat kelaparan, penganggu di jalan lintas, menodong untuk beras,
pakaian dan uang jajan. yang selalu
diburu oleh GongonKiller.
Air
mukanya keras, menjelaskan pengalamannya selama ini bertahan di hutan
belantara, kubangan darah, nanah yang membusuk, menahan lapar, berjaga malam.
Semuanya telihat di wajahnya. Mataku tertunduk sementara menghayati apa yang
sudah dia lakukan untuk martabat bangsanya.
Kini
dia terlihat bersih dalam balutan baju seragam putih nan bersih, berkopiah
hitam, disisinya juga berdiri seorang yang sama dengannya, yang juga hidup
sebagai kera di hutan. Mereka berhasil keluar hutan dengan makmur. Namun dengan
apa yang diperjuangkannya kurang serasi dengan lambang burung rajawali di kopiahnya, seharusnya singa buraq.
Motor
yang kukendarai menerabas jalanan dengan perasaan bangga dan unyu untuk
diceritakan.
“Mas bro, kita sudah di buket rata, kemana
lagi?”
“Kita akan masuk lorong
itu” jawabku. Stang
motor ku banting ke kanan untuk menyebrang jalan. Kami pun berdebat soal tempat,
ini sudah jauh sekali mas bro, kita balik, ini bukan lagi kampus, sudah hutan,
“ memang kampus ini di hutan kataku, Cuma kita perlu kesabaran untuk sampai
disana. Eko mulai geram dan diam seribu bahasa. Ku hentikan motor tepat di
tengah hutan, dalam hitungan 5 menit kami sudah keluar jalan besar dan tiada
kehidupan disini.
Kulihat
setiap sudut hutan, ada saja sarang gongon
killer. Mereka seperti bunglon, serasi sekali dengan warna dedaunan lebat. Mereka
terlatih untuk hidup merayap. ”Mas Bro,
kita pulang saja. Kampusmu tak terlihat disini”. Inilah yang menjadi masalah, kuliah di sekolah tinggi tak ternama,
mungkin dalam bayanganku kampus ini memang sudah tak beratap.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar