Minggu, 08 Mei 2016

Mozaik IV

Sarang GongonKiller

2011. Pukul 02:00 Siang, Hari ini suasananya panas, matahari membakar segala sesuatu yang terlihat, dari jauh uap uap aspal di jalan kelihatan seperti genangan air, sebenarnya itu adalah fenomena alam yang terjadi saat panas matahari mendekati 32 derajat. Orang orang kelihatan berteduh di kedai kopi, di sudut kedai kulihat sosok manusia yang kukenal.

Dia melihat, langkah kakinya sudah pasti mengarah padaku, langkahnya pelan tak dihiraukan aku terbakar dibawah sinar matahari. Aku tak sabaran, motor yang kubawa ku gas kencang untuk menarik perhatiannya, “Aku sudah terlambat !

Dia mempercepat langkah, ku bonceng dia ke kampus. Jarak antara rumah dan kampus begitu menantang, terkapar di jalan atau tiba dengan keringat di badan. Resiko menghabiskan waktu selama 15 menit di jalan raya.

Namanya eko, teman ku dari minggu pertama aku menginjakkan kaki dikota Lhokseumawe 12 tahun silam, kalau ada orang yang tahu segala tentangku itulah dia. Badannya kurus, kulitnya sawo matang, ketika kami sama sama di satu Balai pengajian, dia dijuluki paicong, aktor laga di sinetron Jaka tingkir.

Dia bersemangat sekali untuk menjadi orang berkulit putih, baginya putih itu keren dan sempurna untuk dijuluki manusia tampan. Maka aku sering melihatnya memakai luluran, memakai perawatan kulit wanita sebagai usaha menukar kulit sawo matangnya dengan warna putih, bahkan dia tak sungkan menggunakan lulur kering dengan cara di gosokkan ke badannya seperti bedak—warna kuning berbentuk serbuk halus olahan pabrik mustika ratu, untuk sekedar menghabiskan waktu menunggu sore untuk mandi.

Dalam perjalanan dia bergumam, sepertinya mengkritisiku mengajaknya untuk menemaniku mencari kampus STAIN Malikusaleh yang baru pindah dari Lancang Garam Kecamatan Banda Sakti jauh ke Alue Awe Kecamatan Blang Mangat.

“mas Bro, kau tau pasti dimana tempatnya?

Tanyanya pasti, namun khawatir, mata sipitnya menunduk, jaketnya ditarik hingga melindungi wajahnya dari sinar matahari, mungkin juga menghalangi kontak mata denganku lewat spion. karakternya ciut tertutupi karakterku yang memimpin, dia akrab, tapi selama ini sebenarnya menjaga jarak denganku, Seolah dia takut aku melakukan sesuatu kepadanya, seolah hidupnya terancam bila bepergian denganku, tapi dia bungkam. Aku tidak tahu apa yang sudah dia lakukan terhadapku selama ini sehingga dia sedikit mencerminkan rasa bersalah.

Dalam perjalanan, kibaran bendera terlihat dimana-mana, aku senang bukan kepalang, garis garis hitam putih diatas kain merah memberikan kesan wilayah ini telah mengatur nasibnya sendiri, identitas keacehan tak perlu ditutupi, yang dulu, sebagian Homo Sapiens asli penghuni di wilayah aceh tidak boleh dinamai Abdullah, Abdurrauf, Jafar, Fatimah tapi harus dinamai susianti, suwarno, susilo, widodo, atau bahkan kasih nama saja sunarwan, sukijan, sutriman, sukirman supaya diakui Negara sebagai warganya dan berhak mendapatkan pekerjaan.

Disudut jalan, terlihat pajangan Poto kera  Aceh yang dulu menjadi Kera Hutan, kepala gerombolan kera perusak tanaman pisang masyarakat saat kelaparan, penganggu di jalan lintas, menodong untuk beras, pakaian dan uang jajan.  yang selalu diburu oleh GongonKiller.

Air mukanya keras, menjelaskan pengalamannya selama ini bertahan di hutan belantara, kubangan darah, nanah yang membusuk, menahan lapar, berjaga malam. Semuanya telihat di wajahnya. Mataku tertunduk sementara menghayati apa yang sudah dia lakukan untuk martabat bangsanya.

Kini dia terlihat bersih dalam balutan baju seragam putih nan bersih, berkopiah hitam, disisinya juga berdiri seorang yang sama dengannya, yang juga hidup sebagai kera di hutan. Mereka berhasil keluar hutan dengan makmur. Namun dengan apa yang diperjuangkannya kurang serasi dengan lambang burung rajawali  di kopiahnya, seharusnya singa buraq.

Motor yang kukendarai menerabas jalanan dengan perasaan bangga dan unyu untuk diceritakan.

Mas bro, kita sudah di buket rata, kemana lagi?”

“Kita akan masuk lorong itu” jawabku. Stang motor ku banting ke kanan untuk menyebrang jalan. Kami pun berdebat soal tempat, ini sudah jauh sekali mas bro, kita balik, ini bukan lagi kampus, sudah hutan, “ memang kampus ini di hutan kataku, Cuma kita perlu kesabaran untuk sampai disana. Eko mulai geram dan diam seribu bahasa. Ku hentikan motor tepat di tengah hutan, dalam hitungan 5 menit kami sudah keluar jalan besar dan tiada kehidupan disini.
Kulihat setiap sudut hutan, ada saja sarang gongon killer. Mereka seperti bunglon, serasi sekali dengan warna dedaunan lebat. Mereka terlatih untuk hidup merayap. ”Mas Bro, kita pulang saja. Kampusmu tak terlihat disini”. Inilah yang menjadi masalah, kuliah di sekolah tinggi tak ternama, mungkin dalam bayanganku kampus ini memang sudah tak beratap.
***


Tidak ada komentar: