Minggu, 08 Mei 2016

Mozaik VII

Pertemuan awal


Kami menuju sebuah ruangan di gedung studi jurusan dakwah, sebuah ruangan sesuai informasi akademik, tertera jelas untuk setiap kami yang berada dalam ruang itu adalah unit 1 prodi bahasa inggris jurusan Tarbiyah, unit pilihan yang berisi mahasiswa terbaik saat tes akademik. Kami saling pandang, aku kenal dua orang mahasiswi, ada Ayu Sri Rahayu dan Dina Mahdarisa, mereka kawan SMA-ku dan SMP-ku selebihnya adalah homo sapiens asing.

Suasana sangat kaku bagiku, yang berasal dari dayah modern mereka berbahasa arab dan sesekali bahasa ingris, sedangkan aku bingung memulai pembicaraan dengan mereka, aku masih sendirian.

Bagiku, berteman itu untuk saling menukar informasi, saling menanyakan keadaan, saling bertukar pendapat, maka kelas ini bukanlah kelas yang mendukung aku saat ini.

Mahasiswa lalu lalang di kelas mencari kursi kosong, kadang ada yang ke ruang lain menarik kursi disana, suasana menjadi ribut, gesekan kursi terdengar dimana-mana, sifat bawaan siswa lulus UN dengan Kopean pun mengubah kembali suasana kampus menjadi kelas SMA sederajat.

Aku duduk bosan menunggu dosen datang, kubuka KRS kembali untuk melihat mata kuliah yang akan berlanjut hari ini, diantaranya tiada yang aku pahami, ada Metodelogi Penulisan Karya Ilmiah, Ulumul Quran, Pattern Practice, Ushul Fiqh, Ushul Hadis, bahasa arab 1, Vocabulary 1 dan Metodelogy Study Islam jumlahnya 22 sks. Aku mengangguk dan berkata inilah kuliah, pantas saja orang tidak sanggup mengikuti pelajaran yang begitu banyak—3 tahun kemudian aku tahu bahwa kampus lain menyertai pelajaran pokok lebih banyak dari semester pertama. Maka kampus ini lebih banyak belajar agama ketimbang fokus pada program study tersebut.

Hi”, seorang mahasiswi menyapa

Hi juga, dia mengenalkan dirinya ”Sadri”, dia senang sekali melempar senyum, jiwanya begitu bersemangat, tubuhnya berisi dan sedikit gemuk dipinggang—bukan idamanku. Pandanganku terpaku pada satu arah, Aku melihat dalam keramaian kelas, mereka berbahasa arab, aku tidak mau bergabung, kubuka buku seolah sedang membaca---untuk memberi kesan rajin pada semua mata yang melihat.

Disudut kelas, terlihat mata yang begitu indah, besar memancarkan aura keanggunan pemiliknya, bola matanya berhiaskan sinar surga, lentik bulu matanya lebih indah walau tidak dipasangi bulu mata rias, hidungnya mancung, kulihat cara dia menyentuh hidungnya dengan badan luar jari telunjuk memberi kesan dia bukan wanita pada umumnya.

Seketika, kelas yang sangat ribut dan membosankan berubah menjadi gedung bioskob, semua Homo Sapiens terlihat berjalan mengambil kursi duduk sesuai nomer tiket yang dibelinya di depan pintu masuk, di pintu siswa yang memastikan alamat ruangan terlihat seperti orang yang sedang memesan tiket, wajahnya gusar karena terlambat dan tiketnya kehabisan,

Aku telah memutar menyesuaikan bangku dengan layar tancap yang sedang memutar film, 66 nama cinta sekejab telah kulafalkan semua, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengilhamiku memaknai apa yang sedang kurasakan, darah membuncah dan naik keubun-ubun, degub jantung begitu terasa, menunggu apa yang dilakukan selanjutnya oleh putri Kimnya Itu

Pakaiannya boleh sederhana, aku yakin itu tidak akan bertahan lama, dia tidak akan menutupi jati dirinya. Akan bergejolak jiwanya untuk memberitahukan dunia dialah yang tercantik. Aku menatapnya dalam, aku terpaku pada kursiku di tengah kelas, seolah aku berada dalam kesunyian, yang kurasa adalah kebahagiaan seorang petaruh memenangkan taruhan Bola jutaan dollar, tidak ada yang dapat menghalangiku merasakan perasaan ini.

Aku tidak mampu bergerak, mataku tidak berpindah, layar lebar di depanku sedang memutar film terindah dengan pesona pemeran utamanya begitu mengagumkan, tawanya, lemparan senyumnya, tangan mungilnya yang melambai, sekedar bertegur sapa dengan pemeran figuran disampingnya yang mencoba memperbaiki tutur mereka. Sesekali kulihat dia mengarahkan tangan kanannya dengan gemulai menutup tawanya yang merdu sekedar memberi kesan dia sedang mendengarkan orang lain berbicara

Aku tidak mau melewatkan sedetikpun adegan yang dia mainkan, mataku tak berkedip sama sekali, aku masih duduk di kursi tengahku , tanganku mencoret coret kertas yang kubawa untuk menulis catatan hari kuliah pertamaku. Ternyata Aku menuliskan Dialah artis pujaan hatiku secantik “Sonya Pandawarman”.
                                                                                                                            

***

Tidak ada komentar: