Pertemuan
awal
Kami
menuju sebuah ruangan di gedung studi jurusan dakwah, sebuah ruangan sesuai
informasi akademik, tertera jelas untuk setiap kami yang berada dalam ruang itu
adalah unit 1 prodi bahasa inggris jurusan Tarbiyah, unit pilihan yang berisi mahasiswa
terbaik saat tes akademik. Kami saling pandang, aku kenal dua orang mahasiswi,
ada Ayu Sri Rahayu dan Dina Mahdarisa, mereka kawan SMA-ku dan
SMP-ku selebihnya adalah homo sapiens
asing.
Suasana
sangat kaku bagiku, yang berasal dari dayah modern mereka berbahasa arab dan
sesekali bahasa ingris, sedangkan aku bingung memulai pembicaraan dengan
mereka, aku masih sendirian.
Bagiku,
berteman itu untuk saling menukar informasi, saling menanyakan keadaan, saling
bertukar pendapat, maka kelas ini bukanlah kelas yang mendukung aku saat ini.
Mahasiswa
lalu lalang di kelas mencari kursi kosong, kadang ada yang ke ruang lain
menarik kursi disana, suasana menjadi ribut, gesekan kursi terdengar
dimana-mana, sifat bawaan siswa lulus UN dengan Kopean pun mengubah kembali suasana kampus menjadi kelas SMA
sederajat.
Aku
duduk bosan menunggu dosen datang, kubuka KRS kembali untuk melihat mata kuliah
yang akan berlanjut hari ini, diantaranya tiada yang aku pahami, ada Metodelogi Penulisan Karya Ilmiah, Ulumul
Quran, Pattern Practice, Ushul Fiqh, Ushul Hadis, bahasa arab 1, Vocabulary 1
dan Metodelogy Study Islam jumlahnya 22
sks. Aku mengangguk dan berkata inilah kuliah, pantas saja orang tidak
sanggup mengikuti pelajaran yang begitu banyak—3 tahun kemudian aku tahu bahwa
kampus lain menyertai pelajaran pokok lebih banyak dari semester pertama. Maka
kampus ini lebih banyak belajar agama ketimbang fokus pada program study
tersebut.
“Hi”, seorang mahasiswi menyapa
Hi juga, dia mengenalkan dirinya ”Sadri”, dia senang sekali melempar
senyum, jiwanya begitu bersemangat, tubuhnya berisi dan sedikit gemuk
dipinggang—bukan idamanku. Pandanganku terpaku pada satu arah, Aku melihat
dalam keramaian kelas, mereka berbahasa arab, aku tidak mau bergabung, kubuka
buku seolah sedang membaca---untuk memberi kesan rajin pada semua mata yang
melihat.
Disudut
kelas, terlihat mata yang begitu indah, besar memancarkan aura keanggunan
pemiliknya, bola matanya berhiaskan sinar surga, lentik bulu matanya lebih
indah walau tidak dipasangi bulu mata rias, hidungnya mancung, kulihat cara dia
menyentuh hidungnya dengan badan luar jari telunjuk memberi kesan dia bukan
wanita pada umumnya.
Seketika,
kelas yang sangat ribut dan membosankan berubah menjadi gedung bioskob, semua Homo Sapiens terlihat berjalan mengambil
kursi duduk sesuai nomer tiket yang dibelinya di depan pintu masuk, di pintu
siswa yang memastikan alamat ruangan terlihat seperti orang yang sedang memesan
tiket, wajahnya gusar karena terlambat dan tiketnya kehabisan,
Aku
telah memutar menyesuaikan bangku dengan layar tancap yang sedang memutar film,
66 nama cinta sekejab telah kulafalkan semua, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengilhamiku memaknai apa yang sedang
kurasakan, darah membuncah dan naik keubun-ubun, degub jantung begitu terasa,
menunggu apa yang dilakukan selanjutnya oleh putri Kimnya Itu
Pakaiannya
boleh sederhana, aku yakin itu tidak akan bertahan lama, dia tidak akan
menutupi jati dirinya. Akan bergejolak jiwanya untuk memberitahukan dunia
dialah yang tercantik. Aku menatapnya dalam, aku terpaku pada kursiku di tengah
kelas, seolah aku berada dalam kesunyian, yang kurasa adalah kebahagiaan
seorang petaruh memenangkan taruhan Bola jutaan dollar, tidak ada yang dapat menghalangiku
merasakan perasaan ini.
Aku
tidak mampu bergerak, mataku tidak berpindah, layar lebar di depanku sedang
memutar film terindah dengan pesona pemeran utamanya begitu mengagumkan, tawanya,
lemparan senyumnya, tangan mungilnya yang melambai, sekedar bertegur sapa
dengan pemeran figuran disampingnya yang mencoba memperbaiki tutur mereka.
Sesekali kulihat dia mengarahkan tangan kanannya dengan gemulai menutup tawanya
yang merdu sekedar memberi kesan dia sedang mendengarkan orang lain berbicara
Aku
tidak mau melewatkan sedetikpun adegan yang dia mainkan, mataku tak berkedip
sama sekali, aku masih duduk di kursi tengahku , tanganku mencoret coret kertas
yang kubawa untuk menulis catatan hari kuliah pertamaku. Ternyata Aku
menuliskan Dialah artis pujaan hatiku secantik “Sonya Pandawarman”.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar