Minggu, 08 Mei 2016

Mozaik III

GongonKiller

Seolah aku berada dalam kondisi kubungan perang Aceh-RI 2013. Mataku mencari cari celah keluar dari kubungan Homo Sapiens yang seolah menyergapku. Mata mereka seperti peluru yang menghantam, bidikan pada dahi mungilku, pekikan mereka seolah menyelidiki rahasia apa yang kusimpan selama ini, semakin aku diam semakin lama mereka mengintrogasiku, semakin mereka mendekat seperti kepalaku mau pecah terkena tendangan sepatu IPDN. perasaan yang kualami terbawa jauh melampaui 12 tahun silam. Keringat bercucuran di pelupuk mata, badan diam ditempat, nafas tertahan di sela sela gigi, para homo sapiens lalu lalang di hadapanku tak kuhiraukan.

Yang ingin aku lakukan adalah segera keluar dari kungkungan Homo Sapiens, menarik nafas sebanyak mungkin dan berteriak sekuat tenaga untuk menunjukkan pada mereka aku bukan orang lemah. Rasanya itulah yang selalu aku lakukan setidaknya dalam pikiranku. Belum pernah sehari pun aku melalui hari dengan nyaman tanpa beban pikiran yang ringan. Selalu terusik dengan hal kecil.  Daerah tempat aku berdomisili sekarang cukup aman atas serangan apapun, jadi yang kualami hanyalah masalah traumatik masa lalu yang belum selesai. Bagiku Lhokseumawe adalah kota idaman pejuang pejuang untuk meluruskan niatnya berbaur dengan masyarakat.

Suhu cuaca kota ini bisa mencapai 32% celcius, angin bertiup kencang, membawa suhu panas menerabas lobang lobang kecil si sudut kota, tak ayal semua besi akan karatan dengan sendirinya, proses pengaratan cukup cepat dikarenakan kandungan garam pada udara daerah setempat dipengaruhi air laut yang tidak jauh dari kota.

Di sebuah lorong terlihat rumah kumuh, rumput tumbuh subur disebarang tempat, dinding rumah, lorong rumah, di dalam pot bunga, namun kita akan tahu rumah itu adalah tempat yang dulunya sangat popular dan selalu ramai dan terawat. Terlihat dari bangunan yang luas, cat dinding putih walau telah mengelupas dimakan usia dan terpajang papan nama “Balai Pengajian Rayatussunnah ”. dibelakang bangunan itulah aku tinggal, sejak dipungut oleh adik kakek ku.

Ukuran bangunan cukup menyediakan ruang 3x4 untuk 3 buah kamar tidur, 3x12 meter untuk ruang tamu, dibelakang terdapat sebuah dapur ukuran 3x6 dan sebuah kamar mandi ukuran 3x4. Dari No sertifikat rumah 582, tanggal 5 juni 1978 menunjukkan rumah itu sudah sangat tua, tua dengan meninggalkan nilai arsitektur rumah pada saat itu.

Aku terbiasa mengurusi rumah itu sejak ditinggal nenek sejak kelas 2 sma, sesampah yang datang dari guguran daun pohon jambu selalu aku bersihkan 2x seminggu, sesampah dari bunga bunga taman sehari sekali, sesampah pohon mangga sebulan sekali, sesampah dari pohon pisang sekali panen sekali dan membersihkan debu setiap pagi dalam rumah.

Kala senja aku duduk di atas atap bangunan rumah melengu dan membisu, kadang aku dihampiri oleh gongonKiller, mengiang-ngiang dalam otakku, sosoknya kekar berbalut loreng, darah turunan kera aceh melumuri sepatu bootnya, sepertinya dia baru selesai berburu di hutan. Kadang aku bertanya walau aku harus menjawab sendiri “berapa jumlah kera aceh yang telah kau bunuh hari ini?”

Ingin kulempar dia ke bawah, setiap dia menghampiri dan mengejekku kala sendiri, bila pun dia membidikku dengan senjatanya tak kan membuatku gagap memekikkan padanya “tiada seorangpun anak berdarah aceh yang tidak merindukan Kemerdekaan”. Kala itu dia pun hilang dari pandanganku, terbang menjauh, semakin mengecil dari pandanganku, aku sadar dia akan kembali lagi saat aku kembali duduk disini sendiri.


***


Tidak ada komentar: