GongonKiller
Seolah aku berada dalam kondisi
kubungan perang Aceh-RI 2013. Mataku mencari cari celah keluar dari kubungan Homo Sapiens yang seolah menyergapku.
Mata mereka seperti peluru yang menghantam, bidikan pada dahi mungilku, pekikan
mereka seolah menyelidiki rahasia apa yang kusimpan selama ini, semakin aku
diam semakin lama mereka mengintrogasiku, semakin mereka mendekat seperti kepalaku
mau pecah terkena tendangan sepatu IPDN. perasaan yang kualami terbawa jauh
melampaui 12 tahun silam. Keringat bercucuran di pelupuk mata, badan diam
ditempat, nafas tertahan di sela sela gigi, para homo sapiens lalu lalang di hadapanku tak kuhiraukan.
Yang ingin aku lakukan adalah segera
keluar dari kungkungan Homo Sapiens,
menarik nafas sebanyak mungkin dan berteriak sekuat tenaga untuk menunjukkan
pada mereka aku bukan orang lemah. Rasanya itulah yang selalu aku lakukan
setidaknya dalam pikiranku. Belum pernah sehari pun aku melalui hari dengan
nyaman tanpa beban pikiran yang ringan. Selalu terusik dengan hal kecil. Daerah
tempat aku berdomisili sekarang cukup aman atas serangan apapun, jadi yang
kualami hanyalah masalah traumatik masa lalu yang belum selesai. Bagiku
Lhokseumawe adalah kota idaman pejuang pejuang untuk meluruskan niatnya berbaur
dengan masyarakat.
Suhu cuaca kota ini bisa mencapai 32%
celcius, angin bertiup kencang, membawa suhu panas menerabas lobang lobang
kecil si sudut kota, tak ayal semua besi akan karatan dengan sendirinya, proses
pengaratan cukup cepat dikarenakan kandungan garam pada udara daerah setempat
dipengaruhi air laut yang tidak jauh dari kota.
Di sebuah lorong terlihat rumah
kumuh, rumput tumbuh subur disebarang tempat, dinding rumah, lorong rumah, di dalam
pot bunga, namun kita akan tahu rumah itu adalah tempat yang dulunya sangat
popular dan selalu ramai dan terawat. Terlihat dari bangunan yang luas, cat
dinding putih walau telah mengelupas dimakan usia dan terpajang papan nama
“Balai Pengajian Rayatussunnah ”. dibelakang bangunan itulah aku tinggal, sejak
dipungut oleh adik kakek ku.
Ukuran bangunan cukup menyediakan
ruang 3x4 untuk 3 buah kamar tidur, 3x12 meter untuk ruang tamu, dibelakang
terdapat sebuah dapur ukuran 3x6 dan sebuah kamar mandi ukuran 3x4. Dari No
sertifikat rumah 582, tanggal 5 juni 1978 menunjukkan rumah itu sudah sangat
tua, tua dengan meninggalkan nilai arsitektur rumah pada saat itu.
Aku terbiasa mengurusi rumah itu
sejak ditinggal nenek sejak kelas 2 sma, sesampah yang datang dari guguran daun
pohon jambu selalu aku bersihkan 2x seminggu, sesampah dari bunga bunga taman
sehari sekali, sesampah pohon mangga sebulan sekali, sesampah dari pohon pisang
sekali panen sekali dan membersihkan debu setiap pagi dalam rumah.
Kala senja aku duduk di atas atap
bangunan rumah melengu dan membisu, kadang aku dihampiri oleh gongonKiller,
mengiang-ngiang dalam otakku, sosoknya kekar berbalut loreng, darah turunan
kera aceh melumuri sepatu bootnya, sepertinya dia baru selesai berburu di
hutan. Kadang aku bertanya walau aku harus menjawab sendiri “berapa jumlah kera
aceh yang telah kau bunuh hari ini?”
Ingin kulempar dia ke bawah, setiap
dia menghampiri dan mengejekku kala sendiri, bila pun dia membidikku dengan
senjatanya tak kan membuatku gagap memekikkan padanya “tiada seorangpun anak berdarah aceh yang tidak merindukan Kemerdekaan”.
Kala itu dia pun hilang dari pandanganku, terbang menjauh, semakin mengecil
dari pandanganku, aku sadar dia akan kembali lagi saat aku kembali duduk disini
sendiri.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar