Minggu, 08 Mei 2016

Mozaik V

Alone

 Pagi, jam 09:00, matahari terlihat ramah sekali untuk diajak bertatapan, sekedar untuk mensyukuri nikmat yang Allah berikan, aku duduk di atap Balai pengajian—sebenarnya lantai dua Balai yang belum selesai, seperti RUKO, nantinya bakal menjadi basecamp MUZA 2014, kupandangi kota Lhokseumawe yang elok. Kearah utara, terlihat waduk buatan yang indah, jalannya melintasi laut seolah jembatan layang diatas air. Sisi barat terlihat Qubah Mesjid Islamic Center yang begitu indah, jarak yang jauh menghasikan panorama yang indah saat awan awan menutupi pandanganku kearah qubah. Sisi selatan terlihat keramain simpang jam, persimpangan yang menghubungkan 4 jalur arah berlawanan. Segala aktifitas akan terlihat sibuk pada pagi hari dan sore hari. Sisi timur terlihat bangunan berlantai dua, kicaauan burung wallet sudah tentu berasal dari situ, terlihat lubang lubang seperti pipa di dinding gedung mulai dari atas sampai bawah tempat yang dibuat cina untuk peternakan wallet.

  hari ini kuputuskan untuk kembali ke Buket Rata untuk sekedar melihat kampus STAIN Malikussaleh yang menurut informasi beralamat dekat sekali dengan jalan besar. Informasi baru bahwa jalan ke kampus ini ada dua, pertama jalan Elak dan satunya lagi Jl. Simpang Auri.

Seperti biasa, aku akan sarapan di kedai kopi,  jajaran kedai kuperhatikan ramai sekali, kedai-kedai yang menjual sarapan selalu penuh dengan pengunjung, aku yakin sebagian besar penduduk kota lhokseumawe itu tidak sarapan dirumah. Dalam imajinasiku ibu rumah tangga menjadi agen pertukaran rupiah paling aktif, mulai dari sarapan hingga air minum beli saja kerjaannya. Inilah Lhokseumawe

 Kecewa atas kegagalan kemarin mencari gedung tarbiyah melalui jl. Simpang Auri aku memutuskan untuk masuk melalui jl.Elak. hari ini aku berangkat seorang diri, eko berangkat ke kampus yang berdekatan dengan kampusku, dia sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk kesan kuliah pertamanya.
Sesampai di jalan elak aku melihat hamparan tanah luas.

Aku berdiri menghadap barat, Hamparan tanah luas kelihatan tak berujung dan tidak dibatasi pagar, tanahnya kuning dan gersang karena dibakar matahari, diwaktu pagi udaranya masih sejuk dan betah berlama-lama untuk sekedar menikmati pemandangan,  tanah ini telah ditimbun untuk sebuah proyek pembangunan. 2km kedepan kulihat tumbuhan tropis tumbuh menghijau nan indah, dibatas hijau inilah mungkin gedung-gedung perkuliayahan STAIN Malikussaleh akan berbatasan dengan hutan.

Diatas hamparan tanah luas itu, berdiri tiga buah bangunan dan terdapat sebuah bangunan jauh terletak di puncak seberang, 3 buah bangunan ini tidak beratap, tidak ada jendela, lantai atas masih ada kayu-kayu penyangga lantai, pastinya sedang dilakukan pengecoran semen.

Aku masuk ke sebuah gedung yang nantinya menjadi gedung Studi Jurusan Syariah, puing-puing keramik berserakan bagai terkena hantaman bom Martil. Tembok dinding rusak sebagian -- dugaan sementara ini kesalahan meramu semen dan pasir oleh kuli bangun atau ini bentuk penyesuaian anggaran yang minim. terus kedepan aku masuk ke kamar mandi, betapa biadabnya orang-orang mengencingi tempat tanpa izin, kotoran manusia tidak jauh beda dengan kotoran lembu yang saling silang bertumpuk di lantai. Siapapun pelakunya pasti bukan mahasiswa.

Aku terkesiap melihat beberapa orang keluar dari sebuah bangunan tidak jauh dai gedung syariah kira –kira 300 meter, mengenakan tas, berkacamata, polos, seperti anak sma.

Bagaimana mungkin bangunan belum selesai dibangun telah difungsikan, serpihan keramik, kayu balok yang menempel di dinding, kamar mandi jorok, kelas tidak ada kipas. Rasanya aku salah alamat lagi—dalam hati mungkin aku sudah salah mendaftarkan diri ke kampus STAIN Malikussaleh. aku meredam rasa ingin tahu, dan melangkah kearah keramaian.


Panitia registrasi OPAK (orientasi pengenalan akademik dan kemahasiswaan) telah duduk di sebuah meja, disudut ruang gedung Dakwah. Aku menyerahkan segala persyaratan yang dimintai termasuk uang pendaftaran—nantinya aku akan tau bahwa itu tidak ada pertanggung jawaban untuk keuangan Negara.

Tidak ada komentar: