Alone
Pagi, jam 09:00, matahari terlihat ramah
sekali untuk diajak bertatapan, sekedar untuk mensyukuri nikmat yang Allah berikan,
aku duduk di atap Balai pengajian—sebenarnya lantai dua Balai yang belum
selesai, seperti RUKO, nantinya bakal menjadi basecamp MUZA 2014, kupandangi kota
Lhokseumawe yang elok. Kearah utara, terlihat waduk buatan yang indah, jalannya
melintasi laut seolah jembatan layang diatas air. Sisi barat terlihat Qubah
Mesjid Islamic Center yang begitu indah, jarak yang jauh menghasikan panorama
yang indah saat awan awan menutupi pandanganku kearah qubah. Sisi selatan
terlihat keramain simpang jam, persimpangan yang menghubungkan 4 jalur arah
berlawanan. Segala aktifitas akan terlihat sibuk pada pagi hari dan sore hari.
Sisi timur terlihat bangunan berlantai dua, kicaauan burung wallet sudah tentu
berasal dari situ, terlihat lubang lubang seperti pipa di dinding gedung mulai
dari atas sampai bawah tempat yang dibuat cina untuk peternakan wallet.
hari
ini kuputuskan untuk kembali ke Buket Rata untuk sekedar melihat kampus STAIN
Malikussaleh yang menurut informasi beralamat dekat sekali dengan jalan besar.
Informasi baru bahwa jalan ke kampus ini ada dua, pertama jalan Elak dan
satunya lagi Jl. Simpang Auri.
Seperti
biasa, aku akan sarapan di kedai kopi,
jajaran kedai kuperhatikan ramai sekali, kedai-kedai yang menjual
sarapan selalu penuh dengan pengunjung, aku yakin sebagian besar penduduk kota
lhokseumawe itu tidak sarapan dirumah. Dalam imajinasiku ibu rumah tangga
menjadi agen pertukaran rupiah paling aktif, mulai dari sarapan hingga air
minum beli saja kerjaannya. Inilah Lhokseumawe
Kecewa atas kegagalan kemarin mencari gedung
tarbiyah melalui jl. Simpang Auri aku memutuskan untuk masuk melalui jl.Elak.
hari ini aku berangkat seorang diri, eko
berangkat ke kampus yang berdekatan dengan kampusku, dia sedang mempersiapkan
segala sesuatu untuk kesan kuliah pertamanya.
Sesampai
di jalan elak aku melihat hamparan tanah luas.
Aku
berdiri menghadap barat, Hamparan tanah luas kelihatan tak berujung dan tidak
dibatasi pagar, tanahnya kuning dan gersang karena dibakar matahari, diwaktu
pagi udaranya masih sejuk dan betah berlama-lama untuk sekedar menikmati
pemandangan, tanah ini telah ditimbun
untuk sebuah proyek pembangunan. 2km kedepan kulihat tumbuhan tropis tumbuh
menghijau nan indah, dibatas hijau inilah mungkin gedung-gedung perkuliayahan
STAIN Malikussaleh akan berbatasan dengan hutan.
Diatas
hamparan tanah luas itu, berdiri tiga buah bangunan dan terdapat sebuah bangunan
jauh terletak di puncak seberang, 3 buah bangunan ini tidak beratap, tidak ada
jendela, lantai atas masih ada kayu-kayu penyangga lantai, pastinya sedang
dilakukan pengecoran semen.
Aku
masuk ke sebuah gedung yang nantinya menjadi gedung Studi Jurusan Syariah, puing-puing keramik berserakan bagai terkena
hantaman bom Martil. Tembok dinding rusak
sebagian -- dugaan sementara ini kesalahan meramu semen dan pasir oleh kuli
bangun atau ini bentuk penyesuaian anggaran yang minim. terus kedepan aku masuk
ke kamar mandi, betapa biadabnya orang-orang mengencingi tempat tanpa izin,
kotoran manusia tidak jauh beda dengan kotoran lembu yang saling silang
bertumpuk di lantai. Siapapun pelakunya pasti bukan mahasiswa.
Aku
terkesiap melihat beberapa orang keluar dari sebuah bangunan tidak jauh dai
gedung syariah kira –kira 300 meter, mengenakan tas, berkacamata, polos,
seperti anak sma.
Bagaimana
mungkin bangunan belum selesai dibangun telah difungsikan, serpihan keramik,
kayu balok yang menempel di dinding, kamar mandi jorok, kelas tidak ada kipas.
Rasanya aku salah alamat lagi—dalam hati mungkin aku sudah salah mendaftarkan
diri ke kampus STAIN Malikussaleh. aku meredam rasa ingin tahu, dan melangkah
kearah keramaian.
Panitia
registrasi OPAK (orientasi pengenalan akademik dan kemahasiswaan) telah duduk
di sebuah meja, disudut ruang gedung Dakwah. Aku menyerahkan segala persyaratan
yang dimintai termasuk uang pendaftaran—nantinya aku akan tau bahwa itu tidak
ada pertanggung jawaban untuk keuangan Negara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar