Minggu, 08 Mei 2016

Mozaik VIII

Demagogie itu dia !

Dosen ternyata tidak masuk, seperti mahasiswa, dosen juga pasti sedang tersesat mencari ruang yang dijadwalkan untuknya oleh akademik, atau dosen sedang mendaki jalanan kerikil dari pinggir jalan besar atau sibuk dengan tanda tangan KRS Mahasiswa sebagai Dosen Wali. Mungkin juga untuk mempersilahkan para siswa berkenalan di minggu pertama.

Ruangan pengap, sinar  matahari menyeka wajah kami dari jendela, kawan-kawan terlihat sibuk mengipasi wajahnya, 44 mahasiswa membuat ruangan menjadi sesak. belum ada kipas angin, belum ada aliran listrik dalam ruangan.

Kawan-kawan terlihat sibuk, ada yang berias, mendempul kembali bedak yang luntur diwajahnya karena keringat—dibalik itu kawannya duduk berhadapan mengatakan “cukup” bila sudah pas  tertata,  ada yang sibuk dengan binder menuliskan daftar pelajaran seperti dilakukannya masa sma.

Bak larutan gula yang menetes di meja makan, semut semut datang mengerumuninya bersamaan, satu persatu kulihat kawan baruku mengerumuni sebuah lingkaran, disana pasti ada sesuatu yang menarik perhatian.

Leher leher jenjang mereka dibalik kerudung pasti mengurat karena tawa mereka pecah begitu saja. Aku tetap pada karakterku, diam, mengamati dan mengerti. Sosok anak kampung yang berorasi saat OPAK ternyata ada di ruangan ini, perkataannya yang mengangkat perasaan ratusan mahasiswa kala itu telah memberinya jutaan sunyum dari wajah mereka yang kagum.

“ dulu kamu di dayah mana ?“ Tanya seorang padanya
“kamu mau tau aja atau mau tau banget?” pukasnya

Yang lain tertawa geli, nadanya medok meniru niru artis Jakarta, kulihat kaki mereka terhentak hentak kegirangan karena jawaban yang ditunggu mereka keluar juga. Bukan jawaban yang meraka tertawakan, namun gaya lebay yang membuat mereka tergelitik di perut.

Aku melihatnya berbicara, semua nilai kedaerahan terbawa dan terangkat bersamanya, pikiran, karakter, lelucon, prilaku semua tertempa karena keadaan. Dia bakal tampil menjadi seorang birokrat muda yang mampu bernegosiasi dengan pikiran dingin. Karakternya telah ditempa keadaan.

Mungkin di tahun 2003, dia sama sepertiku, menjinjing Bom Rakitan kosong, Mengusap Senapan, membakar darah di jalan, memastikan mayat disawah bukan keluarga, berlindung dibalik pohon, melihat tank mendobrak pagar halaman, melihat truck reo pulang pergi gampoeng ke gampoeng, pohon tumbang saat malam,  Gongonkiller duduk di semak semak belakang rumah saat senja dan malam, kadang ujung rokok yang menyala di semak semak saat malam persis sekali kunang kunang yang hinggap di dedauanan.

Lebih tepatnya dia mungkin berada pada posisi yang lebih menyakitkan, menjadi keluarga korban, sehingga dia terlatih menjadi penenang, memberi keceriaan bagi orang tuanya yang telah kehilangan, menemani perasaan duka sahabat kecilnya yang ditinggal saudara, atau menjadi sahabat ria berlarian dibawah hujan peluru.

“Fuadi kamu jangan lebay deh” seorang dari pendengar menyela –tapi nadanya meminta lelucon darinya lagi, nadanya menuntut perhatian, nadanya minta timpalan yang sama, nadanya minta sekeliling mengakui kedekatannya dengan PM Toh yang sedang melawak didepannya. Yang lain senyap, menunggu giliran masuk hitungan, mata mereka saling tatap, sesekali melihat PM toh, sesekali melihat rekannya yang menyela. Murid-murid akan terlihat berkerumun bersama tgk atau ustazah di Balai pengajian mendengar cerita Nabi Ayyub AS, begitu juga tak habisnya mereka berkerumun sekedar mendengar curriculum viteae-nya hari ini.

Dia mungkin bakal menjadi seorang sahabat akrabku—bahagian cerita Kazoku-ku, kesamaan pengalaman ada padaku dan padanya, bedanya dia periang dan aku pendiam, sesadarnya, aku mengingat namanya Fuadi

***




Tidak ada komentar: