Demagogie
itu dia !
Dosen
ternyata tidak masuk, seperti mahasiswa, dosen juga pasti sedang tersesat
mencari ruang yang dijadwalkan untuknya oleh akademik, atau dosen sedang mendaki
jalanan kerikil dari pinggir jalan besar atau sibuk dengan tanda tangan KRS
Mahasiswa sebagai Dosen Wali. Mungkin juga untuk mempersilahkan para siswa
berkenalan di minggu pertama.
Ruangan
pengap, sinar matahari menyeka wajah
kami dari jendela, kawan-kawan terlihat sibuk mengipasi wajahnya, 44 mahasiswa
membuat ruangan menjadi sesak. belum ada kipas angin, belum ada aliran listrik
dalam ruangan.
Kawan-kawan
terlihat sibuk, ada yang berias, mendempul kembali bedak yang luntur diwajahnya
karena keringat—dibalik itu kawannya duduk berhadapan mengatakan “cukup” bila sudah pas tertata, ada yang sibuk dengan binder menuliskan daftar pelajaran seperti dilakukannya masa sma.
Bak
larutan gula yang menetes di meja makan, semut semut datang mengerumuninya
bersamaan, satu persatu kulihat kawan baruku mengerumuni sebuah lingkaran,
disana pasti ada sesuatu yang menarik perhatian.
Leher
leher jenjang mereka dibalik kerudung pasti mengurat karena tawa mereka pecah
begitu saja. Aku tetap pada karakterku, diam, mengamati dan mengerti. Sosok anak
kampung yang berorasi saat OPAK ternyata ada di ruangan ini, perkataannya yang
mengangkat perasaan ratusan mahasiswa kala itu telah memberinya jutaan sunyum
dari wajah mereka yang kagum.
“ dulu kamu di dayah mana ?“
Tanya seorang
padanya
“kamu mau tau aja atau mau
tau banget?”
pukasnya
Yang
lain tertawa geli, nadanya medok meniru niru artis Jakarta, kulihat kaki mereka
terhentak hentak kegirangan karena jawaban yang ditunggu mereka keluar juga.
Bukan jawaban yang meraka tertawakan, namun gaya lebay yang membuat mereka tergelitik
di perut.
Aku
melihatnya berbicara, semua nilai kedaerahan terbawa dan terangkat bersamanya,
pikiran, karakter, lelucon, prilaku semua tertempa karena keadaan. Dia bakal tampil
menjadi seorang birokrat muda yang mampu bernegosiasi dengan pikiran dingin. Karakternya
telah ditempa keadaan.
Mungkin
di tahun 2003, dia sama sepertiku, menjinjing Bom Rakitan kosong, Mengusap
Senapan, membakar darah di jalan, memastikan mayat disawah bukan keluarga,
berlindung dibalik pohon, melihat tank mendobrak pagar halaman, melihat truck reo
pulang pergi gampoeng ke gampoeng, pohon tumbang saat malam, Gongonkiller
duduk di semak semak belakang rumah saat senja dan malam, kadang ujung rokok
yang menyala di semak semak saat malam persis sekali kunang kunang yang hinggap
di dedauanan.
Lebih
tepatnya dia mungkin berada pada posisi yang lebih menyakitkan, menjadi keluarga
korban, sehingga dia terlatih menjadi penenang, memberi keceriaan bagi orang
tuanya yang telah kehilangan, menemani perasaan duka sahabat kecilnya yang
ditinggal saudara, atau menjadi sahabat ria berlarian dibawah hujan peluru.
“Fuadi kamu jangan lebay
deh” seorang
dari pendengar menyela –tapi nadanya meminta lelucon darinya lagi, nadanya
menuntut perhatian, nadanya minta timpalan yang sama, nadanya minta sekeliling
mengakui kedekatannya dengan PM Toh
yang sedang melawak didepannya. Yang lain senyap, menunggu giliran masuk
hitungan, mata mereka saling tatap, sesekali melihat PM toh, sesekali melihat rekannya yang menyela. Murid-murid akan
terlihat berkerumun bersama tgk atau ustazah di Balai pengajian mendengar cerita Nabi Ayyub AS, begitu juga tak habisnya mereka berkerumun sekedar
mendengar curriculum viteae-nya hari
ini.
Dia
mungkin bakal menjadi seorang sahabat akrabku—bahagian cerita Kazoku-ku, kesamaan
pengalaman ada padaku dan padanya, bedanya dia periang dan aku pendiam,
sesadarnya, aku mengingat namanya Fuadi
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar