Minggu, 08 Mei 2016

Mozak VI

Sesengukan

Rambut cepak, masih kuingat nomernya 2 dan 3; dua untuk samping, tiga untuk atas. Mengulang-ngulang kembali, sambil kumasukkan dalam tas karung yang baru selesai kubuat, ada Wortel, apel, teh botol , 2 butir telur, tas terbuat dari karung beras, topi sudung, papan nama sudah kusiapkan sehari sebelum masa peloncoan di kampus, ini syarat mutlak untuk lulus OPAK kata panitia registrasi sebelumnya— namun aku mendengarnya ini syarat untuk lulus menjadi mahasiswa STAIN Malikussaleh.

Dengan Nada cemooh aku menggumam untuk apa ini semua bagiku, apa untungnya mempersiapkan hal konyol seperti ini, aku terpaksa melakukan. Biar nanti kuselesaikan dilapangan. Kekejaman senior di beberapa sekolah telah menjadi sebuah kriminalitas, sampai aku melihat jelas laporan-laporan orang tua kepada pihak berwajib atas perlakuan kakak letting tehadap anaknya, aku melihatnya di RCTI, TV One, Metro Tv, Trans Tv dan TVRI

Jam 07:00 pagi aku sudah dalam barisan ala serdadu, di setiap persimpangan jalan kulihat orang bertubuh besar tegap memakai seragam Polisi Militer (PM) dimana-mana, Gongonkiller merayap lagi dalam pandanganku—kenapa sampai ranah mahasiswa mereka datangi? Apa yang mereaka cari intaiku, Badanku kecil, bila diterpa angin, baju besar yang kupakai bakal membentuk likuk tubuh mungil, terutama bagian dada. Tepos. Membuat sulit memperkokoh nilai percaya diriku.

Hari peloncoan begitu mencekam bagi kami Anak SMA yang baru lulus UN. Aku takut PM turun tangan melakukan perpeloncoan terhadap kami, kasus IPDN menjadi catatan sejarah kekejaman pendidikan disana. Tak dinyana seorang dari kami tidak membawa atribut badut yang diperintahkan. Dia dipanggil, dibawa keruang introgasi, semua peserta bungkam, takut, tidak lagi berani beradu mata dengan panitia, apalagi dengan PM yang berdiri menghalau seluruh armada angkutan di Jl.Lintas Medan-Banda Aceh. Sampai mengamankan  gedung-gedung studi perkuliahan.

Mereka menyisir barisan kami, tidak ada yang terlewat, seorang dari mereka berdiri di samping barisanku, aku terkepung dalam situasi darurat, pikiranku tidak lagi membaca keadaan, tubuhku berdiri kosong, kaku, tidak dapat bergerak.

Kupecahkan Rahang kau, Baris Yang benar. PM itu menghardikku.

Suaranya lantang, matanya bulat, alisnya menyatu, memandang penuh kedalam pandanganku, aku rabun, tidak ada lagi yang terlihat, dia berhasil membidikku tepat sasaran, pikiranku terkotak, Aku membisu, suara kecil keluar tanpa perintah, aku sesengukan, matilah aku.

Dia benar benar membunuh karakterku, sesengukan muncul tiba tiba. Rencanaku ingin menyatakan sikap tidak setuju terhadap perintah perintah panitia lenyap sudah. Tidak ada yang bisa ku lakukan sendiri, benar benar aku tak lagi berguna. Mereka telah merencanakan segalanya dengan sistematis.

Hari ke-3 perpeloncoan, kami duduk dibawah tenda, menyimak seluruh dosen menyampaikan informasi terkait kampus dan pekuliahan, itu puncak acara, disekeliling terlihat seluruh pengurus himpunan berada disekeliling kami, bendera mereka bermacam macam, aku melihat kain petak hijau, LDK Al-Kautsar, Merah, silat Tapak Suci,  Coklat, Pramuka, Putih Dema, HMJ dan HMP. Seluruhnya ada. Bahkan organisasi eksternal juga berhasil tembus pada OPAK kali ini. Dua himpunan itu PMII dan HMI. Biru dan Hijau-Hitam. mereka menyapa dengan lembut, kadang memperlihatkan sifat tegas mereka—nanti aku juga bakal tau mereka adalah mahasiswa ber-IP kurang lebih  2,5.  

Panitia memanggil peserta yang dianggap bersalah kedepan, mereka ternyata telah merencanakan sesuatu yang belum aku ketehui, satu persatu nama dipanggil, mereka maju pelan dengan langkah yang berat, di depan podium mereka berbalik kearah peserta lain. Inilah awal  perkenalanku dengan salah seorang calon mahasiswa,-- tiga mahasiswa unggul nantinya .

Situasi kaku, panitia berkumis melenggak lenggok di depan barisan, sambil memegang microphone. Pria baret tentara kulihat juga mengambil tempat disisi barisan kami, selembar kertas hasil komentar peserta yang dikumpulkan panitia dicampakkan ke muka peserta itu,
“baca” katanya
Peserta gugup bukan main, dengan suara terbata-bata, dia membacanya

“untuk panitia, terutama yang sok-sok jadi tentara
Jangan belagu deh, sok banget jadi orang
Yang bikin keliatan hebat Cuma baju  kamu
Seenaknya kamu berbuat sesuka hati
Kamu itu tidak lebih seorang mahasiswa
Berlakulah sebagai mahasiswa supaya kamu bermartabat”

Mahasiswa berpakaian ala militer itu pun meluncur kedepan bersama rekannya, ingin menghantam muka anak yang dihakimi panitia itu—dibalik itu sebenarnya panitia mengerjai dia kebetulan ulang tahun.
Semua histeris, cemas, takut dikeluarkan dari kampus, semua bungkam. Aku melihat keadaan dan mencoba menguasai keadaan, rasa geramku dikerjai selama 3 hari tidak terbalaskan sampai hari ini.
Para peserta OPAK kelelahan, ada yang tumbang, tim evakuasi KSR turun kelapangan mengangkat peserta yang telah terkulai lemas, aku melihat sorot mata teman teman telah padam, rasa lelah dan geram belum terobati juga setelah panitia meminta maaf.

Dalam keadaan yang demikian kaku, ada sesi penyampaian kesan dan pesan dari peserta opak, muncul seorang peserta , dia hitam, kecil, baju hitam putih memperlihatkannya seolah sebagai seorang pelamar kerja, sudung dikepalanya terkesan dia menjadi seorang petani, tas karung beras yang dikalungkan di lehernya membuat dia semakin gokil. Dia yang berani muncul ditengah kekakuan peserta lain yang tegang urat sarafnya dikerjai panitia selama 3 hari.
Dia berujar
“ panas kawan-kawan?”
“panas“
“ bukankah panas ini tidak sepanas perlakuan panitia?
iya”
Cekikikan, Gelak tawa muncul begitu saja, jujur sekali nadanya membuat seluruh peserta menghilangkan kekakuan selama ini. Aku sadari karakter seperti ini akan menjadi tokoh yang akan mudah melesat menjadi seorang pemimpin. Jauh kita lihat kondisi psikis masyarakat aceh yang tertekan oleh perang, tegang setiap saat menunggu sanak family yang mana harus di salatkan, mereka butuh humor yang meredakan kegundahan selama ini, maka karakter kocak dan humoris akan selalu menjadi idola dan tidak jemu-jemu mereka mengangkatnya sebagai pemimpin mereka.

Bukankah sudah terbukti tokoh aceh di senayan adalah para actor humoris dan budayawan? H. uma dengan parangnya menuju senayan, Rafli kande dengan lagunya menggoyang kantor Presiden. Apa yang kurang membuktikan aceh butuh pemimpin yang humoris.


***

Tidak ada komentar: