Sesengukan
Rambut
cepak, masih kuingat nomernya 2 dan 3; dua untuk samping, tiga untuk atas. Mengulang-ngulang
kembali, sambil kumasukkan dalam tas karung yang baru selesai kubuat, ada Wortel,
apel, teh botol , 2 butir telur, tas terbuat dari karung beras, topi sudung,
papan nama sudah kusiapkan sehari sebelum masa peloncoan di kampus, ini syarat
mutlak untuk lulus OPAK kata panitia registrasi sebelumnya— namun aku
mendengarnya ini syarat untuk lulus menjadi mahasiswa STAIN Malikussaleh.
Dengan
Nada cemooh aku menggumam untuk apa ini semua bagiku, apa untungnya
mempersiapkan hal konyol seperti ini, aku terpaksa melakukan. Biar nanti
kuselesaikan dilapangan. Kekejaman senior di beberapa sekolah telah menjadi
sebuah kriminalitas, sampai aku melihat jelas laporan-laporan orang tua kepada
pihak berwajib atas perlakuan kakak letting tehadap anaknya, aku melihatnya di RCTI, TV One, Metro Tv, Trans Tv dan TVRI
Jam
07:00 pagi aku sudah dalam barisan ala serdadu, di setiap persimpangan jalan
kulihat orang bertubuh besar tegap memakai seragam Polisi Militer (PM) dimana-mana, Gongonkiller merayap lagi dalam pandanganku—kenapa sampai ranah
mahasiswa mereka datangi? Apa yang mereaka cari intaiku, Badanku kecil, bila
diterpa angin, baju besar yang kupakai bakal membentuk likuk tubuh mungil,
terutama bagian dada. Tepos. Membuat sulit memperkokoh nilai percaya diriku.
Hari
peloncoan begitu mencekam bagi kami Anak SMA yang baru lulus UN. Aku takut PM turun tangan melakukan perpeloncoan
terhadap kami, kasus IPDN menjadi catatan sejarah kekejaman pendidikan disana. Tak
dinyana seorang dari kami tidak membawa atribut badut yang diperintahkan. Dia
dipanggil, dibawa keruang introgasi, semua peserta bungkam, takut, tidak lagi
berani beradu mata dengan panitia, apalagi dengan PM yang berdiri menghalau seluruh armada angkutan di Jl.Lintas
Medan-Banda Aceh. Sampai mengamankan gedung-gedung studi perkuliahan.
Mereka
menyisir barisan kami, tidak ada yang terlewat, seorang dari mereka berdiri di
samping barisanku, aku terkepung dalam situasi darurat, pikiranku tidak lagi
membaca keadaan, tubuhku berdiri kosong, kaku, tidak dapat bergerak.
Kupecahkan Rahang kau,
Baris Yang benar.
PM itu menghardikku.
Suaranya
lantang, matanya bulat, alisnya menyatu, memandang penuh kedalam pandanganku,
aku rabun, tidak ada lagi yang terlihat, dia berhasil membidikku tepat sasaran,
pikiranku terkotak, Aku membisu, suara kecil keluar tanpa perintah, aku
sesengukan, matilah aku.
Dia
benar benar membunuh karakterku, sesengukan muncul tiba tiba. Rencanaku ingin
menyatakan sikap tidak setuju terhadap perintah perintah panitia lenyap sudah.
Tidak ada yang bisa ku lakukan sendiri, benar benar aku tak lagi berguna. Mereka
telah merencanakan segalanya dengan sistematis.
Hari
ke-3 perpeloncoan, kami duduk dibawah tenda, menyimak seluruh dosen
menyampaikan informasi terkait kampus dan pekuliahan, itu puncak acara,
disekeliling terlihat seluruh pengurus himpunan berada disekeliling kami,
bendera mereka bermacam macam, aku melihat kain petak hijau, LDK Al-Kautsar,
Merah, silat Tapak Suci, Coklat,
Pramuka, Putih Dema, HMJ dan HMP. Seluruhnya ada. Bahkan organisasi eksternal
juga berhasil tembus pada OPAK kali ini. Dua himpunan itu PMII dan HMI. Biru
dan Hijau-Hitam. mereka menyapa dengan lembut, kadang memperlihatkan sifat
tegas mereka—nanti aku juga bakal tau mereka adalah mahasiswa ber-IP kurang
lebih 2,5.
Panitia
memanggil peserta yang dianggap bersalah kedepan, mereka ternyata telah
merencanakan sesuatu yang belum aku ketehui, satu persatu nama dipanggil,
mereka maju pelan dengan langkah yang berat, di depan podium mereka berbalik
kearah peserta lain. Inilah awal
perkenalanku dengan salah seorang calon mahasiswa,-- tiga mahasiswa
unggul nantinya .
Situasi
kaku, panitia berkumis melenggak lenggok di depan barisan, sambil memegang microphone. Pria baret tentara kulihat
juga mengambil tempat disisi barisan kami, selembar kertas hasil komentar
peserta yang dikumpulkan panitia dicampakkan ke muka peserta itu,
“baca” katanya
Peserta
gugup bukan main, dengan suara terbata-bata, dia membacanya
“untuk
panitia, terutama yang sok-sok jadi tentara
Jangan
belagu deh, sok banget jadi orang
Yang
bikin keliatan hebat Cuma baju kamu
Seenaknya
kamu berbuat sesuka hati
Kamu
itu tidak lebih seorang mahasiswa
Berlakulah
sebagai mahasiswa supaya kamu bermartabat”
Mahasiswa
berpakaian ala militer itu pun meluncur kedepan bersama rekannya, ingin
menghantam muka anak yang dihakimi panitia itu—dibalik itu sebenarnya panitia
mengerjai dia kebetulan ulang tahun.
Semua
histeris, cemas, takut dikeluarkan dari kampus, semua bungkam. Aku melihat
keadaan dan mencoba menguasai keadaan, rasa geramku dikerjai selama 3 hari
tidak terbalaskan sampai hari ini.
Para
peserta OPAK kelelahan, ada yang tumbang, tim evakuasi KSR turun kelapangan
mengangkat peserta yang telah terkulai lemas, aku melihat sorot mata teman
teman telah padam, rasa lelah dan geram belum terobati juga setelah panitia
meminta maaf.
Dalam
keadaan yang demikian kaku, ada sesi penyampaian kesan dan pesan dari peserta
opak, muncul seorang peserta , dia hitam, kecil, baju hitam putih
memperlihatkannya seolah sebagai seorang pelamar kerja, sudung dikepalanya
terkesan dia menjadi seorang petani, tas karung beras yang dikalungkan di
lehernya membuat dia semakin gokil. Dia yang berani muncul ditengah kekakuan
peserta lain yang tegang urat sarafnya dikerjai panitia selama 3 hari.
Dia
berujar
“ panas kawan-kawan?”
“panas“
“ bukankah panas ini tidak
sepanas perlakuan panitia?”
“iya”
Cekikikan,
Gelak tawa muncul begitu saja, jujur sekali nadanya membuat seluruh peserta
menghilangkan kekakuan selama ini. Aku sadari karakter seperti ini akan menjadi
tokoh yang akan mudah melesat menjadi seorang pemimpin. Jauh kita lihat kondisi
psikis masyarakat aceh yang tertekan oleh perang, tegang setiap saat menunggu
sanak family yang mana harus di salatkan, mereka butuh humor yang meredakan
kegundahan selama ini, maka karakter kocak dan humoris akan selalu menjadi
idola dan tidak jemu-jemu mereka mengangkatnya sebagai pemimpin mereka.
Bukankah
sudah terbukti tokoh aceh di senayan adalah para actor humoris dan budayawan?
H. uma dengan parangnya menuju senayan, Rafli kande dengan lagunya menggoyang
kantor Presiden. Apa yang kurang membuktikan aceh butuh pemimpin yang humoris.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar